Lonjakan Penumpang KRL dan LRT di Awal 2026 Soroti Ketimpangan Transportasi Luar Jawa

- Minggu, 19 April 2026 | 05:45 WIB
Lonjakan Penumpang KRL dan LRT di Awal 2026 Soroti Ketimpangan Transportasi Luar Jawa

Jakarta Ada kabar bagus dari dunia transportasi publik. Jumlah penumpang kereta rel perkotaan melonjak di awal 2026. Tapi, di balik angka-angka yang menggembirakan itu, terselip sebuah ironi yang sudah lama menganga: perkembangan transportasi umum kita masih sangat timpang. Fokusnya terpusat di Jawa, terutama Jabodetabek, sementara wilayah lain seolah tertinggal.

Kuncinya ada pada integrasi. Konektivitas yang makin kuat antar moda transportasi rupanya jadi magnet bagi warga. Coba lihat, sekarang LRT Jabodebek sudah nyambung dengan kereta cepat Whoosh di Halim. Lalu, simpul-simpul penting seperti Dukuh Atas dan Manggarai juga makin terhubung. Opsi perjalanan jadi lebih banyak, dan yang paling dirasakan masyarakat: waktu tempuh lebih singkat. Di tengah kemacetan yang makin parah, ini jelas jadi angin segar.

Dampaknya langsung terlihat di angka. Sepanjang triwulan pertama 2026, LRT Jabodebek mencatat 7,75 juta pelanggan. Angka itu naik signifikan, sekitar 22%, dibanding periode sama tahun sebelumnya. Kereta cepat Whoosh juga ikut naik, meski lebih moderat, dengan 1,4 juta penumpang atau tumbuh 4%.

Yang paling masif tentu saja KRL Commuter Line Jabodetabek. Januari-Maret 2026, layanan ini dipakai oleh 86,86 juta orang. Naik 5,7% dari tahun 2025. Bahkan, pertumbuhan lebih tinggi terjadi di jalur bandara dan Merak. Commuter Line Bandara Soetta melonjak 23,8%, sementara jalur Merak naik 11,7%.

Lalu, apa yang mendorong kenaikan ini?

Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter, punya penjelasan. Menurutnya, penambahan kapasitas angkut lewat program peremajaan sarana jadi faktor utama. "Programnya sudah berjalan bertahap sejak 2025," ujarnya kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Rangkaian KRL baru dengan konfigurasi 12 kereta mampu mengangkut lebih banyak orang. Belum lagi, operasional stasiun baru seperti Jatake turut memperluas jangkauan layanan. Karina menambahkan, tren positif ini tak cuma terjadi di Jakarta. Wilayah seperti Yogyakarta, Surabaya, hingga Merak dan Bandara Soetta juga mengalami hal serupa.

Dari sisi pengguna, ceritanya lain lagi. Bagi Ave, seorang pekerja swasta berusia 26 tahun di Jakarta, alasan beralih ke transportasi umum sangat pragmatis: efisiensi. "Lebih praktis di tengah lalu lintas padat," katanya. Dia mengakui, dari segi biaya memang lebih hemat ketimbang pakai kendaraan pribadi. Meski begitu, fleksibilitas rute dan waktu tetap jadi keunggulan mobil atau motor yang belum tergantikan.

Masalah Klasik: Jawa vs Luar Jawa

Pergeseran preferensi masyarakat urban ini diamati baik oleh pengamat. Bhima Yudhistira Adhinegara dari Center of Economic and Law Studies melihat, makin banyaknya pilihan moda yang terintegrasi mendorong kelas menengah untuk meninggalkan kendaraan pribadi. "Kelompok pekerja urban inilah yang akhirnya memanfaatkan transportasi publik," ujarnya.

Selain menghemat ongkos, transportasi umum dinilai lebih sederhana. Tak perlu pusing dengan perawatan kendaraan. Tapi, Bhima langsung menyoroti titik lemahnya. "Sayangnya masih terkonsentrasi di Jawa. Bahkan di beberapa daerah Jawa pun masih sangat kurang," tegasnya.

Menurut dia, percepatan pembangunan di luar Jawa mutlak diperlukan. Butuh dukungan pendanaan pemerintah dan investasi yang serius. Momentum krisis energi, katanya, bisa jadi peluang untuk mendorong peralihan ini sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Persoalan integrasi juga tak cuma soal kereta. Djoko Setijowarno, pengamat transportasi, mengingatkan bahwa pengembangan tak bisa bertumpu pada rel saja. Integrasi dengan moda lain seperti bus tetap krusial, apalagi untuk menjangkau segmen pengguna yang beragam. "Ada kelompok di perumahan premium yang mungkin lebih memilih bus premium ketimbang KRL," ujarnya memberi contoh.

Membangun jaringan rel di luar Jabodetabek memang bukan perkara mudah. Butuh investasi raksasa dan kesiapan infrastruktur pendukung seperti elektrifikasi. Djoko punya usulan realistis. Untuk kota seperti Bandung dan Surabaya, pengembangan KRL sangat mendesak. Sementara untuk daerah lain, langkah awal bisa dimulai dari penguatan layanan bus. "Ketimpangan bisa diatasi tanpa harus langsung kereta. Mulai dari bus dulu," katanya.

Ke depan, ekspansi LRT Jabodebek yang direncanakan hingga Baranangsiang di Bogor diharapkan bisa membuka akses mobilitas baru. Ini bisa mengurangi beban jalan raya. Namun, tanpa akselerasi pengembangan di wilayah lain, kesenjangan akses transportasi diprediksi akan makin melebar.

Pemerintah sebenarnya punya target ambisius: menambah panjang rel kereta api yang beroperasi menjadi 12.000 kilometer. Saat ini, baru sekitar 7.000 km yang aktif. Masih ada sekitar 2.233 km jalur yang nonaktif. Rencananya, KAI akan mereaktivasi 500 km jalur lama sebagai langkah awal, terutama di rute-rute yang sudah sangat padat oleh kendaraan bermotor. Tentu, semua itu butuh eksekusi yang cepat dan tepat. Agar lonjakan penumpang tak hanya jadi cerita di Pulau Jawa.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar