Senin, 13 April 2026 - Batavia, atau yang kini kita kenal sebagai Jakarta, punya sejarah panjang yang tak mulus. Bayangkan saja, selama delapan puluh tahun penuh, pasukan Belanda yang berkuasa di sana kerap dibuat tak tenang. Tidur nyenyak? Jangan harap. Semua itu berkat gerilya tak kenal lelah yang dipimpin Pangeran Jayakarta dan para pengikut setianya. Salah satu basis perlawanan itu terletak di daerah yang kini bernama Jatinegara.
Nama "Jatinegara" sendiri sebenarnya adalah sebuah pernyataan politik. Diberikan langsung oleh sang Pangeran saat mengungsi di tempat itu, nama yang berarti "negara yang sejati" itu adalah bentuk perlawanan halus. Ia ingin membuktikan bahwa pemerintahannya tetap sah dan berjalan, meski kota Jayakarta telah jatuh ke tangan Belanda dan namanya diubah jadi Batavia.
Menurut sejarawan Betawi, Alwi Shahab, dalam bukunya, kawasan itu awalnya adalah hutan belukar penuh pohon jati. Ke sanalah Pangeran Jayakarta melarikan diri, tepatnya pada 30 Mei 1619, setelah kalah dalam pertempuran melawan pasukan Jan Pieterszoon Coen.
Tak menyerah begitu saja, di pengasingan itu ia membuka hutan bersama sisa pengikutnya. Tempat itu lalu dijadikan pusat pemerintahan darurat. Lama-kelamaan, keturunan dan pengikutnya beranak-pinak di sana, membentuk sebuah perkampungan keluarga yang dikenal sebagai Kampung Jatinegara Kaum.
Untuk waktu yang cukup lama, daerah itu memang hanya dihuni oleh mereka yang punya ikatan darah atau loyalitas pada Pangeran Jayakarta. Namun seiring waktu, wilayahnya meluas dan mulai dihuni oleh penduduk dari luar lingkaran keluarga itu.
Di sisi lain, ada juga pendapat lain soal asal-usul namanya. Banyak yang bilang, Jatinegara ya memang karena hutannya yang dipenuhi jati. Kawasan rimbun itu kemudian dibuka oleh seorang bernama Mester, alias Cornelis.
Ceritanya berawal di tahun 1661. Seorang guru agama asal Pulau Banda, Maluku, bernama Cornelis van Senen, membeli sebidang tanah di sekitar aliran Sungai Ciliwung. Berkat jabatannya, ia kerap dipanggil Meester Cornelis "tuan guru".
Artikel Terkait
Korban Penyekatan Air Keras Tolak Kasusnya Diadili di Peradilan Militer
BMKG Pastikan Cahaya Misterius di Langit Malang adalah Sampah Antariksa
Hexindo Gelar RUPSLB Usai Mundurnya Dua Direktur Asal Jepang
Ahli Ingatkan Pentingnya Konsistensi Orang Tua Atasi Kecanduan Gadget pada Anak