Tanah miliknya lambat laun berkembang. Dari sebidang tanah, berubah jadi pemukiman, lalu pusat perdagangan yang ramai. Sosoknya yang terkenal sebagai guru membuat masyarakat lebih sering menyebut wilayah itu sebagai Meester Cornelis, atau disingkat Mester saja.
Hutan jati yang dibukanya itu perlahan berubah wujud. Menjadi kota satelit Batavia yang cukup penting. Bahkan pada 1924, Mester dijadikan nama kabupaten dengan empat kawedanan di dalamnya: Meester Cornelis sendiri, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang.
Lalu, kapan nama Jatinegara resmi dipakai? Itu terjadi di awal pendudukan Jepang tahun 1942. Saat itu, Jepang berusaha menghapus segala hal yang berbau Belanda. Nama Meester Cornelis pun diganti dengan Jatinegara. Meski begitu, nama "Mester" sudah terlanjur melekat dan tak serta merta hilang dari lidah penduduk.
Perkembangan wilayah ini juga didukung oleh sarana transportasi. Jalur kereta api yang menghubungkan Jatinegara dengan Jakarta Kota diresmikan pada 6 April 1875. Enam tahun kemudian, tepatnya 1881, trem uap penghubung Kampung Melayu (masih disebut Meester Cornelis saat itu) dengan Kota Intan di Batavia mulai beroperasi.
Tak cuma itu, Jatinegara juga termasuk salah satu titik yang dilewati oleh jalur Anyer-Panarukan proyek mercusuar Daendels untuk memacu perekonomian Jawa.
Pada abad ke-19, pamor Meester Cornelis sebagai kota satelit Batavia semakin bersinar. Puncaknya, sejak 1 Januari 1936, pemerintah Belanda secara resmi memasukkan wilayah ini ke dalam bagian administratif kota Batavia. Sebuah akhir dari perjalanan panjang sebuah hutan jati, yang bermula dari tempat perlawanan, menjadi kota yang sibuk.
Artikel Terkait
Korban Penyekatan Air Keras Tolak Kasusnya Diadili di Peradilan Militer
BMKG Pastikan Cahaya Misterius di Langit Malang adalah Sampah Antariksa
Hexindo Gelar RUPSLB Usai Mundurnya Dua Direktur Asal Jepang
Ahli Ingatkan Pentingnya Konsistensi Orang Tua Atasi Kecanduan Gadget pada Anak