“Jelas orang-orang ini saling kenal,” papar Ravio. “Bukan orang acak. Mereka terhubung dan bergerak bersama.”
Menurut pemaparannya, korban mulai dibuntuti sejak keluar dari Gedung YLBHI. Sejumlah orang memberi kode saat Andrie mulai bergerak. Saat melintas di Salemba, dua pelaku mendekat dengan motor. Cairan keras itu pun disiramkan.
Dampak cairannya sungguh mengerikan. Baju dan tas meleleh. Singlet di tubuh Andrie melepuh. Bahkan beberapa bagian motor ikut rusak. “Se-kuat itu cairan yang disiramkan,” katanya.
Yang menarik, tim investigasi menduga pelaku juga kecipratan. Rekaman menunjukkan mereka berhenti sejenak usai kejadian untuk membilas tangan dan wajah dengan air mineral. Sebuah detail yang menguatkan betapa berbahayanya zat yang mereka bawa.
Di sisi lain, kendaraan yang digunakan sebagian teridentifikasi sebagai milik warga sipil. Hal ini memperkuat spekulasi adanya keterlibatan unsur nonmiliter dalam operasi ini.
Namun begitu, TAUD menegaskan semua temuan ini masih awal. Mereka mengakui keterbatasan sebagai masyarakat sipil. “Ini bukan hasil final. Kami tentu tidak bisa menjangkau seluruh wilayah Jakarta,” kata Ravio. Pendalaman lebih lanjut mutlak diperlukan oleh aparat penegak hukum.
Sementara itu, anggota TAUD Afif Abdul Qoyim menyoroti lambannya penanganan kasus ini. Baginya, ini jadi sinyal kuat perlunya pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen.
Dugaan operasi terorganisir kini menggantung. Menunggu tindak lanjut yang serius, agar terang benderang siapa dalang di balik kekerasan yang nyaris merenggut nyawa itu.
Artikel Terkait
Dari Limbah Gula Merah Bone, Dainichi Kuasai 90% Pasar Indonesia Timur
Harga Plastik Melonjak Drastis, UMKM Makanan dan Minuman Tertekan
Ayah dan Anak di Agats Tewas Usai Saling Serang dengan Parang
BPBD DKI Tegaskan Semua ASN WFO, Tak Ada Pengecualian WFH