Untuk mewujudkannya, Pemprov DKI tidak bekerja sendirian. Mereka melibatkan konsorsium dan sejumlah ahli. Salah satunya adalah Prof Andi, pakar yang terlibat dalam penataan Kota Lama Semarang. Tugasnya adalah menyelaraskan tiga masterplan yang sudah ada dari Citata, MRT, dan Pembangunan Jaya menjadi satu peta jalan yang komprehensif dan bisa langsung dijalankan.
Di sisi lain, ada juga wacana menarik yang sedang dikaji: pembangunan trem. Menurut Rano, trem bukan cuma soal transportasi. Ia bisa menjadi solusi untuk menekan emisi di kawasan itu, sekaligus menghidupkan kembali nuansa Jakarta tempo dulu.
"Dulu saya masih kecil sempat naik trem dari Pasar Baru ke Kota Tua. Trem bisa jadi solusi mengurangi emisi,"
kenangnya.
Perlu diingat, ruang lingkup revitalisasi ini jauh lebih luas dari sekadar Alun-alun Fatahillah. Koridor Harmoni dan akses-akses di sekitarnya juga masuk dalam skema pembenahan. Termasuk di dalamnya adalah sungai dan jalur pejalan kaki yang kondisinya masih memprihatinkan.
"Itu semua bagian dari pembangunan Kota Tua. Kita akan lihat apa yang harus didahulukan,"
imbuh Rano. Tampaknya, pekerjaan rumah untuk menghidupkan kembali jantung sejarah Jakarta ini masih panjang, namun langkah awalnya sudah mulai terlihat.
Artikel Terkait
Bayi Hampir Dibawa Orang Lain, RSHS Bandung Minta Maaf
Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman untuk 11 Bulan ke Depan Hadapi El Nino
Rusia Desak Serangan Israel ke Lebanon Masuk Cakupan Gencatan Senjata AS-Iran
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Rumah Kosong yang Rugikan Korban Rp 100 Juta