Anggota DPR Peringatkan Sistem Pangan RI Tak Siap Hadapi Guncangan Global

- Selasa, 07 April 2026 | 18:00 WIB
Anggota DPR Peringatkan Sistem Pangan RI Tak Siap Hadapi Guncangan Global

Lalu, apa yang harus dilakukan? Johan menyodorkan tiga langkah strategis yang ia anggap mendesak. Pertama, membentuk semacam komando krisis pangan nasional. Komando ini harus terintegrasi lintas sektor dan bisa bekerja real-time untuk memantau serta merespons dinamika harga, stok, dan distribusi.

Kedua, fokus pada pengamanan sektor hulu. Ketersediaan pupuk dan input produksi lain harus benar-benar dijaga. Tujuannya jelas: memastikan produksi pangan kita tetap berjalan meski biaya produksi terdorong naik oleh tekanan global.

Langkah ketiga adalah memperkuat cadangan pangan. Jangan cuma beras. Komoditas strategis lain seperti jagung, kedelai, dan sumber protein hewani juga harus diperhatikan, mengingat ketergantungan impor kita yang masih tinggi untuk barang-barang tersebut.

Di sisi lain, Johan menyoroti satu hal yang sering terlewat: gejolak harga di lapangan. Bagi dia, ini adalah indikator nyata bahwa persoalan pangan bukan cuma soal ketersediaan di gudang.

"Stok boleh aman di atas kertas, tapi kalau harga di lapangan masih bergejolak, artinya sistem kita belum sepenuhnya siap," ujarnya.

Ia menegaskan, pendekatan pemerintah harus berubah dari reaktif menjadi antisipatif. Krisis pangan zaman sekarang, menurutnya, tidak lagi dimulai dari sawah. Titik mulanya justru dari dinamika global yang merusak rantai pasok.

"Jangan tunggu harga naik baru bertindak. Kalau negara terlambat, rakyat yang akan lebih dulu merasakan dampaknya," kata Johan.

Ia menutup dengan penekanan bahwa ketahanan pangan adalah bagian dari kedaulatan negara. Menjaganya memerlukan kebijakan yang cepat, terpadu, dan didasari oleh pembacaan risiko global yang akurat. Bukan sekadar respons biasa di saat yang tidak biasa.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar