Anggota DPR Peringatkan Sistem Pangan RI Tak Siap Hadapi Guncangan Global

- Selasa, 07 April 2026 | 18:00 WIB
Anggota DPR Peringatkan Sistem Pangan RI Tak Siap Hadapi Guncangan Global

Di tengah memanasnya situasi geopolitik dunia, terutama konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan AS, ada peringatan keras yang dilontarkan Johan Rosihan. Anggota Komisi IV DPR RI ini menilai, cara pemerintah mengelola pangan masih terlalu "biasa-biasa saja". Padahal, dampak konflik global itu sudah merembet ke mana-mana: energi, harga pupuk, dan rantai pasokan makanan ikut terpengaruh.

"Dunia sedang tidak normal, tapi cara kita mengelola pangan masih terasa normal. Ini berbahaya,"

tegas Johan dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).

Pernyataannya itu ia sampaikan dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat di Jakarta, yang menghadirkan sejumlah pihak seperti Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, hingga Perum Bulog.

Bagi Johan, mengukur ketahanan pangan cuma dari stok yang ada saat ini jelas keliru. Meski pemerintah kerap menyebut ada surplus dan ketersediaan beras yang aman, itu belum cukup. Ancaman sebenarnya justru mengintai dari kemampuan sistem kita menghadapi guncangan global yang bisa datang tiba-tiba.

"Masalah kita bukan sekadar stok hari ini, tapi ketahanan sistem ke depan," ujarnya.

Menurutnya, gangguan pada energi, pupuk, dan logistik di tingkat internasional akan langsung terasa dampaknya di dalam negeri. Harga pangan bisa melonjak tak terkendali.

Indonesia, dalam pandangannya, sedang menghadapi risiko skenario krisis yang kompleks. Bayangkan saja: konflik global, biaya energi dan pupuk yang melambung, ditambah ancaman gangguan produksi akibat fenomena iklim seperti El Nino. Ketiganya bisa datang bersamaan.

"Kalau tiga tekanan ini terjadi bersamaan, maka dalam beberapa bulan ke depan kita berpotensi menghadapi kenaikan harga pangan yang signifikan. Negara harus bergerak lebih cepat sebelum itu terjadi," katanya memberi peringatan.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar