Iran tak tinggal diam. Juru bicara militer mereka membalas dengan pernyataan sikap bahwa perang akan terus berlanjut selama para pemimpin politik menganggapnya perlu. Mereka juga sudah membalas serangan sebelumnya dengan drone dan rudal, disertai peringatan akan membalas lebih dahsyat jika Trump benar-benar nekat menyerang.
Di sisi lain, kekhawatiran justru datang dari kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi. Dia memperingatkan agar serangan lebih lanjut di dekat pembangkit nuklir Bushehr dihindari. Risikonya jelas sangat besar.
Sementara ketegangan makin memuncak, kabar tentang upaya gencatan senjata justru beredar. Tapi Gedung Putih buru-buru meredamnya. Seorang pejabat menyatakan bahwa usulan gencatan 45 hari itu hanyalah salah satu dari banyak ide yang beredar.
“Presiden belum menyetujui draf kesepakatan apa pun,” tegas pejabat itu kepada AFP, tepat sebelum Trump menggelar konferensi pers yang dijadwalkan membahas konflik ini.
Dampak dari blokade Iran di Selat Hormuz sendiri sudah terasa global. Harga minyak dan gas melonjak tajam, memaksa banyak negara mencari cara untuk mengatasi gangguan pasokan ini. Namun, Garda Revolusi Iran bersikukuh dengan pendirian mereka.
Mereka berjanji Selat Hormuz tak akan pernah kembali seperti dulu, terutama untuk kapal-kapal AS dan Israel. Ancaman itu menggantung, sementara dunia menunggu langkah berikutnya dalam krisis yang makin runyam ini.
Artikel Terkait
Pelaku Pemalakan di Purwakarta Tewaskan Pemilik Hajatan, Ditangkap Usai Buron ke Subang
Supplier MBG Kendal Demo, Tagihan Rp141 Juta Tak Dibayar Koperasi
Wamenristek Sebut Harga Listrik Panas Bumi Masih Lebih Mahal dari Batu Bara
LBH Cianjur Serahkan Data Tambahan ke KPK untuk Laporan Jual-Beli Jabatan