SURABAYA Awal tahun 2026 membawa kabar kurang menggembirakan bagi perekonomian Jawa Timur. Neraca perdagangannya tercatat defisit. Penyebabnya klasik, tapi tetap mengkhawatirkan: ekspor yang melemah sementara impor justru melonjak.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, yang dirilis Senin (6/4), mengonfirmasi tren ini. Herum Fajarwati, sang Plt. Kepala BPS, memaparkan bahwa nilai ekspor pada dua bulan pertama tahun ini hanya mencapai US$4,02 miliar. Angka itu turun tipis, sekitar 0,54%, dibanding periode sama tahun 2025.
“Ekspor nonmigas pun ikut merosot, meski sangat kecil, hanya 0,04%,” ujar Herum.
Kalau dilihat per bulan, Februari 2026 justru lebih suram. Ekspor Jatim anjlok 5,48% dibanding Februari tahun lalu, hanya US$1,97 miliar. Ekspor nonmigasnya juga ikut terperosok, turun lebih dari 5%.
Namun begitu, bukan berarti tak ada secercah cahaya. Ada satu kelompok komoditas yang justru menunjukkan performa gemilang: lemak dan minyak hewani atau nabati. Nilainya melonjak drastis, naik lebih dari US$107 juta atau setara 32%. Pencapaian yang cukup signifikan.
Sayangnya, sorotan positif itu tenggelam oleh penurunan besar di komoditas lain. Tembaga, misalnya, catatannya suram. Ekspornya merosot US$57,48 juta atau sekitar 16%.
Secara sektoral, industri pengolahan masih bisa diandalkan. Ekspornya tumbuh positif 1,8%. Tapi dua sektor lain justru jeblok. Ekspor pertanian ambruk hingga 31%, sementara pertambangan dan sejenisnya juga ikut merosot.
Di sisi lain, ceritanya jadi lain saat kita beralih ke angka impor. Di sini, grafiknya justru naik tajam. Secara kumulatif Januari-Februari, impor Jatim membengkak 13% menjadi US$5,19 miliar.
Artikel Terkait
Pelaku Pemalakan di Purwakarta Tewaskan Pemilik Hajatan, Ditangkap Usai Buron ke Subang
Supplier MBG Kendal Demo, Tagihan Rp141 Juta Tak Dibayar Koperasi
Wamenristek Sebut Harga Listrik Panas Bumi Masih Lebih Mahal dari Batu Bara
LBH Cianjur Serahkan Data Tambahan ke KPK untuk Laporan Jual-Beli Jabatan