“Pendorong utamanya adalah impor nonmigas yang naik sangat tinggi, hampir 24%,” jelas Herum.
Untungnya, impor migas justru turun cukup dalam, sekitar 31%. Tapi itu tak cukup untuk menahan laju kenaikan secara keseluruhan.
Yang menarik, komoditas impor yang naik paling fantastis adalah perhiasan dan permata. Kenaikannya luar biasa, hampir 468% atau setara US$514 juta. Sebaliknya, impor besi dan baja justru mengalami penurunan terbesar, nyaris 29%.
Dari sisi penggunaannya, impor bahan baku masih mendominasi dengan peningkatan 12,4%. Impor barang modal juga tumbuh pesat, lebih dari 26%. Ini mungkin sinyal bahwa aktivitas industri dalam negeri masih berdenyut, meski bahan bakunya banyak diimpor.
Akibat dari kondisi yang bertolak belakang ini, defisit perdagangan pun tak terhindarkan. Jatim mencatatkan defisit US$1,17 miliar hanya dalam dua bulan.
Rinciannya, defisit datang dari kedua sektor: migas menyumbang US$576,72 juta dan nonmigas US$594,80 juta.
“Defisit ini menunjukkan tekanan eksternal masih kuat,” tutur Herum menutup paparannya.
Intinya, kebutuhan dalam negeri yang tinggi tercermin dari lonjakan impor belum bisa diimbangi oleh kemampuan ekspor. Sebuah tantangan lama yang kembali menghadang di awal tahun.
Artikel Terkait
Pelaku Pemalakan di Purwakarta Tewaskan Pemilik Hajatan, Ditangkap Usai Buron ke Subang
Supplier MBG Kendal Demo, Tagihan Rp141 Juta Tak Dibayar Koperasi
Wamenristek Sebut Harga Listrik Panas Bumi Masih Lebih Mahal dari Batu Bara
LBH Cianjur Serahkan Data Tambahan ke KPK untuk Laporan Jual-Beli Jabatan