Lalu, bagaimana dengan daerah lainnya? BMKG sudah punya prediksinya. Mereka memperkirakan, pada bulan April ini, akan ada tambahan 114 ZOM yang ikut beralih ke musim kemarau. Itu sekitar 16,3 persen dari total zona musim di tanah air.
Biasanya, Nusa Tenggara jadi yang pertama merasakan. Setelah itu, baru merambat ke wilayah lain. Kalau April sudah mulai, maka Mei dan Juni nanti akan semakin banyak daerah yang mengalaminya. Diperkirakan 184 ZOM pada Mei, dan 163 ZOM lagi pada Juni.
Peralihan ini erat kaitannya dengan perubahan arah angin monsun. Saat angin dari Australia mulai mendominasi, itulah pertanda musim kemarau benar-benar mulai bercokol.
Lalu, Seperti Apa Gambaran Kemarau 2026?
Secara umum, tahun ini kemarau datang lebih awal di banyak tempat. BMKG menyebut sekitar 46,5 persen wilayah (atau 325 ZOM) akan mengalaminya lebih cepat dari waktu normal. Bukan cuma itu.
Kekeringannya pun diprediksi akan lebih terasa. Sekitar 64,5 persen ZOM diperkirakan mendapat curah hujan di bawah normal selama musim kemarau. Artinya, kondisi bisa lebih kering ketimbang tahun-tahun biasa.
Puncaknya? Agustus nanti. Diperkirakan lebih dari 61 persen wilayah akan mengalami puncak kekeringan di bulan itu. Durasi kemaraunya pun kemungkinan bakal lebih panjang di lebih dari separuh wilayah Indonesia.
Dengan gambaran seperti ini, kewaspadaan harus ditingkatkan. Risiko kekeringan panjang dan kebakaran hutan atau lahan bisa mengintai. BMKG mengimbau masyarakat untuk rajin memantau informasi cuaca terbaru dari kanal resmi. Persiapan sejak dini jelas akan sangat membantu.
Artikel Terkait
KPK Periksa Istri Bupati Rejang Lebong Terkait Kasus Suap Proyek Rp 91 Miliar
Dua Warga NTT Diamankan Usai Curi Komodo untuk Dikirim ke Thailand
Driver Taksi Online Positif Sabu Jadi Tersangka Pelecehan Seksual di Jakarta
Pengemudi Taksi Online Ditangkap Usai Pelecehan dan Cekik Penumpang Perempuan