Jadi, apa syarat Iran untuk membuka selat itu? Seyyed Mehdi Tabatabaei, seorang pejabat komunikasi di kantor presiden Iran, bersikeras. Selat Hormuz baru akan dibuka setelah ada pembayaran ganti rugi atas kerusakan perang.
Pembayarannya nanti akan diambil dari biaya transit melalui sebuah "rezim hukum baru" di sekitar selat. Gagasan ini sejalan dengan pernyataan Iran sebelumnya yang ingin mengubah kendali mereka atas selat menjadi sumber pendapatan jangka panjang.
Menurut Tabatabaei, ancaman Trump itu cuma tanda keputusasaan. "Mereka telah menggunakan kata-kata kotor dan omong kosong karena putus asa dan marah," ujarnya menepis.
Konflik ini sendiri berawal dari serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu, yang langsung memacetkan lalu lintas di selat strategis itu. Serangan-serangan sejak itu telah menyasar banyak tempat, dari jembatan hingga sekolah dan rumah sakit. Banyak ahli yang berpendapat, beberapa aksi itu berpotensi digolongkan sebagai kejahatan perang.
Dan tentang kapan perang ini akan berakhir? Trump enggan memberikan jawaban pasti. Saat ditanya, dia hanya berkata, "Saya akan segera memberi tahu Anda."
Suasana tegang masih menggantung. Tenggat waktu tinggal hitungan jam. Dunia menunggu, apakah ancaman itu akan benar-benar diwujudkan, atau ada jalan lain yang muncul di menit-menit terakhir.
Artikel Terkait
Jaksa Tuntut Seumur Hidup untuk Pelaku Pembunuhan dan Pemutilasi Pacar di Mojokerto
Lebih dari 1.100 Kali Gempa Susulan Guncang Bitung Pascagempa Megathrust M7,6
KPK Periksa Istri Bupati Rejang Lebong Terkait Kasus Suap Proyek Rp 91 Miliar
Dua Warga NTT Diamankan Usai Curi Komodo untuk Dikirim ke Thailand