Gempa dahsyat berkekuatan M7,6 yang mengguncang Bitung, Sulawesi Utara, Kamis lalu, masih terus meninggalkan jejak. Hingga Senin pagi (6/4/2026), getarannya belum benar-benar reda. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, sudah lebih dari seribu kali gempa susulan terjadi pascakejadian utama itu.
Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, memberikan rinciannya. "Hingga Senin, 06 April 2026 pukul 05.48 WIB, gempa susulan 1.108 kali, dirasakan 24 kali," ungkapnya.
Menurut Rahmat, gempa utama yang terjadi itu masuk kategori megathrust. Guncangannya bahkan memicu tsunami di sejumlah wilayah Sulut. Lokasi pusat gempa berada di laut, sekitar 129 kilometer arah tenggara Bitung. Kedalamannya termasuk dangkal, hanya 33 kilometer di bawah permukaan laut.
"Ini kalau lihat kedalamannya cukup dangkal ya, sekitar 33 kilometer. Kalau kategori megathrust itu kan dari sampai kedalaman sekitar 30-an Km. Jadi ini memang dangkal dan (pusat) di laut, dan ini termasuk megathrust ya," jelas Rahmat.
Ia melanjutkan, gempa ini bersumber dari subduksi Laut Maluku yang menghujam ke wilayah Sulawesi Utara, tepatnya di Punggungan Mayu. Mekanismenya adalah sesar naik.
"Ini dari subduksi Laut Maluku terhadap di wilayah Sulawesi Utara. Jadi subduksi Laut Maluku yang menghujam ke wilayah Sulawesi Utara dan episenter ada di Punggungan Mayu. Dan kemudian cukup dangkal, dan ini kategori sesar naik," paparnya.
Artikel Terkait
Mendagri: Inflasi Bulanan Jadi Indikator Kunci Pemulihan Daerah Bencana
Pemilik Hajatan di Purwakarta Tewas Dikeroyok, Keluarga Berharap Keadilan Ditegakkan
Tiga Prajurit TNI Resmi Didakwa Atas Kematian Kepala Cabang Bank
Ahli IT Bongkar Harga Chromebook Rp 6 Juta di E-Katalog Dinilai Jelas Mahal