Dan memang, antusiasme itu terlihat nyata. Setidaknya, belasan wisatawan asal Malaysia, Rusia, dan Prancis telah menyempatkan diri datang langsung. Mereka ingin menyaksikan sendiri keajaiban botani ini sebelum hilang.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama terjadi. Di akhir Maret lalu, bunga serupa juga mekar di area Padang Hijau yang letaknya tak jauh dari sini. Saat itu, pengunjungnya datang dari Ceko, Slovenia, Rusia, Inggris, hingga Amerika Serikat. Rasa senang dan perasaan beruntung jelas terpancar dari mereka. Bagaimana tidak? Bunga ini punya siklus hidup yang unik. Butuh waktu bertahun-tahun, bisa 3 sampai 5 tahun, untuk menunggu satu kali mekar. Dan masa mekarnya sendiri sangat singkat, hanya hitungan hari.
Di sisi lain, status bunga ini bukan main-main. Ade Putra, Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumatera Barat, menegaskan bahwa Amorphopallus titanum adalah puspa langka yang dilindungi undang-undang.
"Perlindungannya jelas, berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 yang sudah diubah dengan UU No. 32 Tahun 2024. Intinya, bunga ini tidak boleh dirusak atau diganggu," tegas Ade.
Jadi, selain menjadi tontonan yang memukau, bunga bangkai ini juga adalah sebuah titipan yang harus dijaga. Sebuah pertunjukan alam yang mahal harganya, sekaligus pengingat akan kekayaan hayati negeri yang tak ternilai.
Artikel Terkait
Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Tiga Warga Sipil, Rusak Rumah Sakit di Tyre
Inter Milan Hajar AS Roma 5-2, Posisi Puncak Serie A Makin Kokoh
Polisi Gerebek Sarang Narkoba di OKU Timur, 5 Orang Diamankan
Brimob dan Polres Jaktim Amankan Remaja Ugal-ugalan dan Tangani Pesta Miras di Condet