Prabowo Gelar Pertemuan Strategis dengan Mantan Presiden dan Wapres Bahas Dampak Konflik Timur Tengah

- Rabu, 04 Maret 2026 | 07:00 WIB
Prabowo Gelar Pertemuan Strategis dengan Mantan Presiden dan Wapres Bahas Dampak Konflik Timur Tengah

Selasa malam (3/3/2026) di Istana Merdeka, suasana terasa berbeda. Presiden Prabowo Subianto bukan cuma mengadakan rapat biasa. Ia mengundang sederet nama besar para mantan Presiden dan Wakil Presiden untuk bersilaturahmi sekaligus berdiskusi. Pertemuan itu berlangsung alot, hampir empat jam lamanya, dengan fokus utama pada satu hal: geopolitik global yang sedang memanas.

Menurut sejumlah saksi, inti pembicaraan mengerucut pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Situasi dunia dinilai sedang tidak baik-baik saja, dan Indonesia perlu menyikapinya dengan hati-hati.

Mantan Menlu Hassan Wirajuda, yang hadir dalam forum itu, memberikan gambaran cukup detail. Katanya, Presiden Prabowo secara pribadi memaparkan perkembangan terkini, terutama menyangkut serangan Amerika dan Israel terhadap Iran.

“Presiden memberikan update, briefing tentang berbagai perkembangan terbaru yang terjadi di dunia,” ujar Hassan kepada awak media, Rabu (4/3/2026).
“Didiskusikan implikasinya apa terhadap kita, terhadap dunia.”

Nah, implikasi itu rupanya tidak main-main. Diskusi tidak berhenti di soal keamanan dan perdamaian global. Mereka juga membongkar kalkulasi dampak ekonomi yang mungkin menghantam. Hassan menyebutkan, hal-hal seperti pasokan minyak dan gas menjadi perhatian serius. “Kita berhitung semua efeknya terhadap kita,” katanya. Bahkan durasi perang pun jadi bahan pertimbangan; berapa lama konflik ini akan berlarut-larut dan menggerus stabilitas.

Di sisi lain, pertemuan ini juga menunjukkan gaya kepemimpinan Prabowo. Hassan menilai Presiden sangat terbuka. Ia tidak segan berbagi masalah yang dihadapi pemerintah dan mendengarkan masukan dari para senior.

“Presiden menganggap penting untuk mengomunikasikan permasalahan-permasalahan dihadapi oleh pemerintah... Presiden sangat terbuka dalam menanggapi usul-usul pemikiran dari para peserta,” jelas Hassan.

Lalu, bagaimana dengan posisi Indonesia? Hassan menegaskan bahwa konflik yang terjadi merupakan aksi sepihak, tanpa mandat internasional. Soal upaya perdamaian atau Board of Peace (BoP), pembahasan tetap berjalan. Namun situasi baru di Iran ini tentu mempengaruhi segalanya. “Kita bahas, tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir... kita akan berhitung lagi dari sisi itu,” tuturnya.

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci. Tampak hadir Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Dari jajaran Wakil Presiden, hadir Ma’ruf Amin, Jusuf Kalla (yang dua kali menjabat), dan Boediono.

Tak ketinggalan, sejumlah mantan Menlu, plus pimpinan organisasi seperti KADIN, APINDO, dan HIPMI turut meramaikan. Beberapa menteri Kabinet Merah Putih juga hadir mendengarkan. Intinya, malam itu Istana Merdeka dipenuhi para pemikir dan pelaku yang paham betul seluk-beluk negeri ini.

Pertemuan empat jam itu mungkin tidak langsung menghasilkan keputusan final. Tapi setidaknya, ada ruang dialog yang dibuka. Di tengah pusaran konflik dunia yang makin ruwet, komunikasi semacam ini jelas dibutuhkan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar