Analis Keuangan Jerman yang Tepat Prediksi Juara Piala Dunia Tiga Edisi Beruntun Akui Faktor Keberuntungan Lebih Dominan

- Rabu, 10 Juni 2026 | 11:35 WIB
Analis Keuangan Jerman yang Tepat Prediksi Juara Piala Dunia Tiga Edisi Beruntun Akui Faktor Keberuntungan Lebih Dominan

Upaya memprediksi juara Piala Dunia telah berlangsung selama puluhan tahun, melibatkan berbagai pihak mulai dari penggemar sepak bola yang berpengetahuan luas, para peramal, hingga superkomputer. Namun, tantangan ini terbukti sangat rumit. Joachim Klement, seorang analis keuangan asal Jerman yang dikenal berhasil menebak pemenang tiga edisi Piala Dunia terakhir, pun mengakui bahwa faktor keberuntungan memegang peranan besar.

Menurut Klement dalam pernyataannya kepada BBC Sport, banyak variabel penentu yang berada di luar kendali, seperti performa tim pada hari pertandingan, keputusan wasit, hingga keberuntungan bola yang masuk ke gawang alih-alih membentur tiang. Semua elemen ini, katanya, pada dasarnya tidak dapat diprediksi.

Meski demikian, jika menilik data historis, terdapat sejumlah pola yang patut dicermati oleh para peserta Piala Dunia. Beberapa di antaranya bahkan cukup mengejutkan dan menawarkan perspektif baru tentang apa yang diperlukan untuk menjadi juara.

Dari total 84 tim yang pernah berlaga di turnamen sepak bola terbesar ini, hanya delapan negara yang pernah merasakan gelar juara: Argentina, Brasil, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Uruguay. Bahkan, jumlah negara yang pernah mencapai partai final pun hanya 13. Jerman tercatat sebagai tim yang paling sering tampil di final, yaitu delapan kali, disusul Brasil dengan tujuh kali, serta Argentina dan Italia yang masing-masing enam kali. Tembok eksklusivitas ini sangat sulit ditembus; Spanyol menjadi pendatang baru terakhir dalam lingkaran juara pada 2010. Sementara itu, Belanda patut mendapat sorotan karena telah tampil di tiga final tanpa sekali pun menang, meskipun Klement memprediksi mereka akhirnya akan mengangkat trofi pada 2026. Di luar itu, hanya Korea Selatan (2002) dan Maroko (2022) yang berhasil menembus semifinal dari kawasan Afrika atau Asia.

Faktor geografis juga menjadi salah satu kunci penting. Sejak Piala Dunia pertama di Uruguay pada 1930 hingga edisi terbaru di Qatar pada 2022, sangat jarang sebuah tim mampu menjuarai turnamen di luar benua asalnya. Peristiwa ini hanya terjadi enam kali dalam 22 turnamen, yaitu oleh Brasil (1958, 1994, 2002), Spanyol (2010), Jerman (2014), dan Argentina (2022). Jika dipersempit pada turnamen yang digelar di Amerika Selatan atau Eropa, rekor ini hanya terpecahkan dua kali dalam 19 edisi. Keunggulan bermain di benua sendiri biasanya terkait dengan adaptasi terhadap iklim, pengurangan kelelahan akibat perjalanan, serta dukungan penonton yang lebih besar. Catatan menunjukkan, enam dari 22 Piala Dunia telah dimenangkan oleh tuan rumah. Tren ini juga terlihat di babak awal; pada Piala Dunia 2014 di Brasil, tujuh negara Amerika Latin melaju ke babak 16 besar, sementara pada 2018 di Rusia, tim-tim Eropa mendominasi dengan mengisi sepuluh dari 16 tempat, dan keempat semifinalis berasal dari benua yang sama.

Namun, Piala Dunia 2026 akan menjadi babak baru. Untuk pertama kalinya, turnamen ini akan diselenggarakan oleh tiga negara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dan diikuti oleh 48 tim, meningkat dari format 32 tim sebelumnya. Sebanyak empat tim, yaitu CuraƧao, Tanjung Verde, Yordania, dan Uzbekistan, akan tampil untuk pertama kalinya. Kemungkinan besar, turnamen ini akan menyimpang dari tren historis yang telah mapan.

Di sisi lain, peringkat FIFA yang sering dijadikan acuan ternyata tidak selalu menjadi indikator kesuksesan. Meskipun juara Piala Dunia hampir selalu berasal dari 10 hingga 15 tim teratas, fakta menariknya adalah tidak ada satu pun tim yang berada di peringkat pertama FIFA saat turnamen berlangsung yang pernah memenangkan Piala Dunia. Peringkat ini, yang dibuat pada 1992, digunakan untuk menyusun tim unggulan dan dihitung berdasarkan hasil pertandingan resmi termasuk laga persahabatan. Per 8 Juni lalu, tren ini bisa menjadi kabar buruk bagi Argentina yang saat ini menempati posisi puncak, meskipun peringkat akan diperbarui pada 11 Juni, hari pembukaan Piala Dunia 2026.

Mempertahankan status juara juga merupakan tantangan berat. Sepanjang sejarah, hanya dua negara yang berhasil menjuarai Piala Dunia dua kali berturut-turut: Italia (1934 dan 1938) serta Brasil (1958 dan 1962). Sejak 2002, empat dari enam juara bertahan gagal lolos dari babak grup. Pengecualiannya adalah Brasil yang menjadi juara 2002 dan mencapai perempat final 2006, serta Prancis yang menjadi juara 2018 dan runner-up 2022. Kemenangan sering kali diikuti oleh kemunduran yang cepat.

Faktor lain yang tak kalah menarik adalah peran pelatih asing. Meskipun jumlah tim yang merekrut pelatih dari luar negeri terus meningkat dengan rekor baru pada 2026 di mana 27 dari 48 negara peserta akan dilatih oleh pelatih asing, termasuk Brasil (Carlo Ancelotti dari Italia) dan Inggris (Thomas Tuchel dari Jerman) kenyataannya, belum pernah ada tim dengan pelatih asing yang memenangkan Piala Dunia.

Terakhir, ada satu statistik unik yang mungkin menjadi pertanda: dalam 11 turnamen terakhir, tim yang mencapai final selalu memiliki pemain dari klub Jerman, Bayern Munich, atau klub Italia, Inter Milan, atau keduanya. Tim yang menjuarai Piala Dunia sejak 1982 pasti memiliki pemain dari salah satu atau kedua klub tersebut, kecuali pada edisi 1986 dan 2010. Pada turnamen 2026, sebanyak 15 dari 48 tim, termasuk tim-tim papan atas seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan juara bertahan Argentina, akan membawa pemain dari Bayern Munich atau Inter Milan dalam skuad mereka.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar