Strateginya jelas mengutamakan pencegahan dan pendekatan humanis. Bahkan sebelum ibadah dimulai, tim Jibom Sat Brimob sudah melakukan sterilisasi menyeluruh di setiap sudut gereja. Mereka memastikan tak ada benda mencurigakan atau berbahaya yang tertinggal.
Petugas di lapangan juga tampil dengan rompi hijau terang agar mudah dicari jika warga butuh bantuan. Yang menarik, senjata api tidak boleh digunakan sembarangan. Aturannya ketat: hanya boleh dipakai atas perintah pimpinan. Ini untuk menghindari kesan mengintimidasi dan tentu saja, menjaga kesucian momen ibadah.
Layanannya pun tak cuma soal keamanan fisik. Di luar pagar gereja, petugas juga mengatur lalu lintas agar tidak macet tugas yang dipegang Satgas Kamseltibcarlantas. Tim medis dari Dokkes Polri juga siaga, siap menangani jemaat yang mungkin pusing atau lemas selama kebaktian berlangsung.
“Melalui sinergi lintas sektoral dan pendekatan yang melayani ini, Polda Sumsel bertekad merawat toleransi dan menjaga predikat Sumatera Selatan sebagai wilayah zero conflict. Kehadiran Polri di setiap gerbang gereja menjadi bukti nyata bahwa negara senantiasa hadir untuk mendampingi masyarakat, memastikan kedamaian dan kerukunan umat beragama tetap terjaga di Bumi Sriwijaya,” tambahnya.
Jadi, itulah upaya yang dilakukan. Sebuah pengawalan besar-besaran, tapi dijalankan dengan sentuhan yang halus dan penuh perhitungan. Tujuannya sederhana: semua bisa beribadah dengan tenang.
Artikel Terkait
Sari Roti Ekspansi ke Industri Pakan Ternak, Manfaatkan Roti Sisa Produksi
Operasi Damai Cartenz Tangkap Anggota KKB Terduga Pelaku Penyerangan ke Tito Karnavian di 2012
Lebih dari 2.500 Pengunjung Padati Kawasan Monas Saat Libur Jumat Agung
Apindo Desak Pemerintah Beri Stimulus Terarah untuk Industri Padat Karya Antisipasi Dampak Perang