"Negara-negara di dunia yang... menerima minyak melalui Selat Hormuz harus mengurusi jalur tersebut," tegas Trump.
Dia bahkan mendorong mereka untuk, singkatnya, mengambil alih. "Pergilah ke selat tersebut dan rebut saja, lindungi, gunakan untuk diri Anda sendiri. Bagian yang sulit sudah selesai, jadi seharusnya mudah," cetusnya dengan nada khasnya. Seruannya jelas: kumpulkan keberanian yang selama ini tertunda, dan pimpin operasi merebut kendali atas jalur strategis pemasok minyak dan gas global itu.
Pidato ini, bagi banyak pengamat, adalah sinyal terbaru dari rencana Trump. Dia ingin mengakhiri perang di Iran, tapi tanpa harus melibatkan AS secara langsung untuk merebut kembali Selat Hormuz. Padahal, selat itu sudah berminggu-minggu ditutup efektif oleh rezim Teheran. Imbasnya? Krisis energi global yang mendongkrak harga minyak dan gas melambung tinggi. Situasi yang sudah bikin banyak negara kelabakan.
Artikel Terkait
Polres Rokan Hulu Intensifkan Patroli dan Bagi Sembako untuk Cegah Karhutla
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
KPK Periksa Lima Saksi Swasta Terkait Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai 15 Orang, Dua Korban Luka Bakar 90 Persen