"Kita tahu bahwa 20 persen dari crude kita itu diambil dari Selat Hormuz. Sekarang, kami sudah ganti ke tempat lain dan pasokannya,"
tutur Bahlil, tanpa merinci lebih jauh lokasi penggantinya.
Namun begitu, situasi di kawasan ternyata cukup berbeda. Filipina, misalnya, justru mengambil langkah darurat. Selasa (25/3) lalu, pemerintah mereka secara resmi mengumumkan status darurat nasional di sektor energi. Gangguan rantai pasok global akibat konflik Timur Tengah disebut-sebut sebagai pemicunya.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. bahkan sudah menandatangani perintah khusus. Langkah ini diambil untuk mengaktifkan respons nasional guna menstabilkan kembali pasokan dan mencegah guncangan ekonomi dari lonjakan harga bahan bakar. Wajar saja Filipina khawatir, mengingat hampir 26% konsumsi minyak mereka bergantung pada impor dari Timur Tengah.
Jadi, sementara tetangga kita sudah siaga satu, Indonesia lewat pernyataan Bahlil, berusaha tenang dan meyakinkan bahwa segala persiapan telah dilakukan. Waktulah yang akan membuktikan.
Artikel Terkait
KPK Sambut Baik Desakan MAKI agar DPR Bentuk Panja Khusus Usut Penahanan Yaqut
China dan ASEAN Sepakati Dialog untuk Dorong Rekonsiliasi di Myanmar
QS Umumkan 4 Universitas Indonesia Terbaik untuk Ilmu Hayati dan Kedokteran
KPK Buka Alasan Alihkan Status Tahanan Eks Menag Yaqut ke Rumah