Paus Leo XIV Terima Liberty Medal 2026 atas Perjuangan Kebebasan Beragama

- Kamis, 26 Maret 2026 | 10:05 WIB
Paus Leo XIV Terima Liberty Medal 2026 atas Perjuangan Kebebasan Beragama

Di sinilah relevansi penghargaan ini menjadi cermin bagi kita: Sudahkah kita benar-benar menghidupi nilai kebebasan beragama, atau masih puas dengan jaminan di atas kertas?

Zygmunt Bauman pernah bicara tentang liquid modernity, kondisi dimana relasi sosial jadi cair dan rapuh. Dalam situasi seperti itu, ketakutan terhadap "yang lain" gampang disulut, sementara identitas mengeras jadi sesuatu yang eksklusif.

Agama dalam konteks ini punya dua wajah. Bisa jadi sumber konflik jika diperalat untuk kepentingan sempit. Tapi juga bisa menjadi sumber solidaritas yang kuat, jika dihayati sebagai panggilan untuk menghormati martabat setiap insan.

Liberty Medal untuk Paus Leo XIV jelas memilih opsi kedua. Menampilkan agama sebagai kekuatan etis yang mendorong dialog, bukan konfrontasi. Yang mengajak kerja sama, bukan dominasi.

Dan satu hal lagi: kebebasan beragama bukan cuma tanggung jawab negara. Tanggung jawab masyarakat jauh lebih besar. Negara bisa buat aturannya, tapi masyarakatlah yang menentukan apakah kebebasan itu hidup dalam keseharian.

Bagi Indonesia, ini artinya toleransi tak cukup diajarkan sebagai teori. Ia harus jadi praktik sosial yang nyata. Terlihat dari cara kita menerima perbedaan, cara kita berbicara tentang kelompok lain, dan cara kita memperlakukan mereka yang beda keyakinan.

Intinya Apa?

Makna terdalam dari semua ini sebenarnya sederhana. Pertama, kebebasan beragama adalah hak dasar dan fondasi perdamaian yang berkelanjutan. Ini bukan cuma soal ritual, tapi hak untuk hidup sesuai keyakinan terdalam. Tanpanya, masyarakat mudah terbelah.

Kedua, dialog adalah jalannya, bukan kompromi. Kepemimpinan Paus menunjukkan bahwa berpegang pada satu keyakinan tak harus berarti menutup pintu bagi yang lain.

Ketiga, penghargaan terbaik itu kesaksian hidup. Liberty Medal diberikan bukan karena pidato-pidato hebat, tapi karena perjalanan Robert Prevost dari Chicago, ke biara, lalu ke Peru dan akhirnya Vatikan yang konsisten membela mereka yang terpinggirkan.

Bagi Indonesia dan dunia, berita ini seharusnya bukan titik akhir. Ia harus jadi panggilan. Panggilan untuk membangun masyarakat yang tak cuma toleran di atas kertas, tapi benar-benar inklusif dalam keseharian.

Di dunia yang masih bergulat dengan intoleransi dan kekerasan atas nama agama, kisah Paus Leo XIV mengingatkan satu hal: perjuangan untuk kebebasan beragama yang sejati dan utuh masih panjang. Ini adalah tugas peradaban yang belum selesai.

Pormadi Simbolon. Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Banten.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar