Vaksin HPV untuk Anak Laki-laki: Manfaat Terbatas, WHO Tetap Prioritaskan Anak Perempuan

- Kamis, 26 Maret 2026 | 07:25 WIB
Vaksin HPV untuk Anak Laki-laki: Manfaat Terbatas, WHO Tetap Prioritaskan Anak Perempuan

Pemberitaan soal vaksin HPV untuk anak laki-laki ramai beberapa waktu lalu. Awal Februari 2026, disebutkan bahwa mulai 2027, anak laki-laki berusia 11 tahun bakal mendapat vaksin ini secara gratis. Tak lama kemudian, di akhir Maret, muncul lagi artikel yang menegaskan bahwa laki-laki pun sebenarnya wajib divaksinasi HPV. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Intinya sih, laki-laki memang bisa terinfeksi virus HPV. Tentu saja, mereka tidak akan kena kanker serviks karena memang tidak punya rahim. Namun begitu, di situlah letak masalahnya. Laki-laki yang terinfeksi bisa menularkan virus itu ke pasangan seksualnya. Nah, sang pasangan jika perempuan lah yang kemudian menghadapi risiko kanker serviks, apalagi jika infeksi HPV di tubuhnya tak kunjung sembuh total.

Jadi, informasi ini perlu kita pahami bersama agar tidak setengah-setengah.

Selama ini, vaksin HPV untuk anak perempuan punya dasar yang jelas. Hubungan antara infeksi HPV di area genital dan kanker serviks sudah sangat kuat. Kabar baiknya, sekitar 90% infeksi bisa dilawan tubuh dengan sendirinya hingga virusnya hilang. Tapi, ada sebagian kecil yang berbahaya. Infeksinya jadi laten, tidak berat tapi terus nempel. Lama-lama, sel-sel di serviks berubah perlahan dan akhirnya bisa jadi kanker.

Makanya, HPV disebut sebagai faktor risiko utama kanker serviks bahkan perannya disebut-sebut mencapai di atas 90%. Faktor lain yang mempercepat perubahan ini adalah aktivitas seksual. Semakin sering terpapar sel yang terinfeksi HPV, risikonya makin besar.

Yang perlu diingat, HPV bukan cuma bikin masalah di serviks. Virus ini bisa menyebar ke mulut atau anus, dan di tempat-tempat itu juga berpotensi memicu kanker. Oleh karena itu, vaksinasi diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Tujuannya mencegah infeksi HPV sejak awal, sehingga nanti tidak jadi faktor risiko yang diperparah oleh aktivitas seksual.

Untuk anak perempuan, logikanya jelas. Tapi untuk anak laki-laki? Kan mereka tidak punya serviks.

Nah, konsep yang dikembangkan begini: karena laki-laki bisa kena HPV dan menularkannya, maka mereka juga perlu divaksin. Targetnya adalah membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Dengan melindungi laki-laki dari infeksi, secara tidak langsung kita juga menambah perlindungan untuk perempuan.

Tapi, apakah konsep ini sudah valid?

Gagasan vaksinasi HPV pada anak laki-laki untuk kekebalan kelompok ini sebenarnya bukan hal baru. Sudah muncul sejak 2011 dalam sebuah studi di The Journal of Infectious Diseases. Namun, studi itu justru menyimpulkan hal menarik.

Intinya, tambahan manfaatnya untuk melindungi anak perempuan jadi tidak signifikan.

Bertahun-tahun kemudian, berbagai penelitian serupa belum juga menunjukkan hasil yang benar-benar menggembirakan. Pada Desember 2022, WHO pun mengeluarkan rekomendasi yang cukup tegas. Target utama vaksinasi HPV adalah anak perempuan usia 9-14 tahun, sebelum aktif secara seksual, dengan target cakupan minimal 80%. Jika target ini tercapai, risiko infeksi HPV pada laki-laki otomatis akan turun.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar