Kabar duka datang dari Kebun Binatang Bandung. Dua anak harimau Benggala yang baru berusia delapan bulan, Huru dan Hara, harus meregang nyawa. Penyebabnya, menurut keterangan resmi, adalah serangan virus Panleukopenia yang ganas.
Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Eri Mildranaya, mengonfirmasi hal ini di Bandung, Kamis lalu. Ia menyebut berbagai upaya maksimal telah dikerahkan untuk menyelamatkan kedua satwa langka itu. Sayangnya, hasilnya tak sesuai harapan.
“Secara umum keduanya terinfeksi Panleukopenia. Berbagai upaya sudah dilakukan secara maksimal, namun hasil akhirnya berkata lain,” ujar Eri.
Rasa kehilangan itu terasa mendalam. Bagi pihak konservasi dan pengelola, Huru dan Hara bukan cuma angka dalam inventaris satwa.
“Kami sangat berduka. Kedua anak harimau ini bukan sekadar satwa tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung,” tuturnya.
Menurut Eri, penanganan kasus ini melibatkan kerja sama banyak pihak. Tim dari Rumah Sakit Hewan Cikole, DKPP, BBKSDA, hingga dokter hewan dari kebun binatang bahu-membahu. Mereka berusaha melawan virus yang menyerang sistem pencernaan dan kekebalan tubuh itu.
Gejalanya sendiri sudah tampak jelas: muntah, diare parah, bahkan ditemukan darah pada feses. Begitu tanda-tanda itu muncul, kedua anak harimau itu langsung dipindahkan ke kandang karantina untuk perawatan intensif.
Lalu, dari mana virusnya berasal? Pertanyaan itu masih menggelayut. Eri menjelaskan, sumber penularan Panleukopenia bisa bermacam-macam. Lingkungan sekitar adalah salah satu faktor yang mungkin. Namun begitu, belum ada kepastian apakah ada satwa lain di lokasi yang juga tertular.
“Kami belum bisa memastikan apakah ada satwa lain yang terjangkit,” jelasnya.
Kronologi kejadiannya begini. Hara lebih dulu mati pada Selasa, 24 Maret 2026. Dua hari kemudian, tepatnya Kamis 26 Maret, Huru menyusul. Keduanya adalah anak dari pasangan harimau Benggala bernama Sahrulkan (jantan) dan Jelita (betina), yang lahir pada pertengahan Juli tahun lalu. Kematian mereka tentu menjadi pukulan bagi program konservasi dan para pencinta satwa di kota kembang.
Artikel Terkait
Indonesia Apresiasi Peran Strategis Azerbaijan sebagai Penghubung Kawasan di Tengah Dinamika Global
Presiden Prabowo Panen Raya Udang di Kebumen, Targetkan Indonesia Jadi Produsen Nomor Satu Dunia
Polres Bogor Layani Ratusan Warga dalam 100 Jam Nonstop, Bawa Kabupaten Bogor Raih Rekor MURI
Megawati Dorong BRIN Jadikan Laut Pusat Inovasi dan Geopolitik Nasional