Presiden Prabowo Subianto menyambangi Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada Sabtu (23/5/2026). Kunjungan kerja kali ini dilakukan Kepala Negara untuk menghadiri panen raya udang vaname di kawasan tambak Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) yang berlokasi di Desa Tegal Retno.
Dalam sambutannya, Prabowo mengungkapkan ikatan emosionalnya dengan daerah tersebut. Ia menyebut sang ayah, Soemitro Djojohadikusumo, lahir di Kebumen. Soemitro merupakan tokoh yang pernah menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan, termasuk Menteri Keuangan.
“Jadi, Kebumen ini ada hubungan khusus sama saya, karena almarhum ayahanda saya lahir di Kebumen ini, di sini. Lahirnya di pabrik gula, pabrik gula yang sudah sekarang katanya jadi hotel katanya, bener ya? iya,” ujarnya di lokasi BUBK Kebumen.
Prabowo yang memiliki nama lengkap Prabowo Subianto Djojohadikusumo merupakan putra dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar. Soemitro sendiri adalah anak dari Margono Djojohadikusumo, anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sekaligus pendiri Bank Negara Indonesia (BNI). Sementara itu, sang ibu, Dora, berasal dari Minahasa, Sulawesi. Pasangan Soemitro dan Dora dikaruniai empat orang anak, termasuk Prabowo dan adiknya, Hashim Djojohadikusumo.
Di luar narasi sejarah keluarga, kunjungan ini juga menjadi ajang bagi Presiden untuk meninjau langsung hasil pengembangan sektor perikanan. Prabowo menjadikan Kebumen sebagai salah satu sentra budidaya udang vaname. Ia mengapresiasi progres yang ditunjukkan kawasan tambak tersebut, yang dinilai mulai membuahkan hasil dan bahkan mampu bersaing di pasar internasional.
“Jadi ya bapak-bapak, ibu-ibu sekalian hari ini saya hadir menyaksikan panen raya udang di proyek ini sudah 2-3 tahun dan panennya sekarang sudah hasilnya sudah tingkat tertinggi, tingkat dunia. Jadi sangat menjanjikan,” kata Prabowo.
Presiden juga membeberkan data produktivitas yang dilaporkan kepadanya. Menurut Prabowo, satu hektare lahan tambak di kawasan tersebut mampu menghasilkan hingga 40 ton udang. Angka ini dinilainya sangat luar biasa, terlebih dengan harga jual yang dinilai cukup menggiurkan.
“Tadi saya diberi laporan satu hektare bisa menghasilkan 40 ton, luar biasa 40 ton ya dan harganya sangat bagus, harganya paling rendah Rp70 ribu per kg, (berarti) Rp70 juta ya per ton,” tuturnya.
Di sisi lain, proyek ini dinilai memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Prabowo menyoroti kemampuan kawasan tambak tersebut dalam menyerap tenaga kerja lokal. Saat ini, sekitar 650 warga setempat telah bekerja di kawasan tersebut.
“Jadi ini sangat bagus, sangat produktif, berapa tenaga kerja yang bisa diserap? Berapa orang yang kerja sekarang? 650 orang setempat, 650 orang bekerja. Dan kita bangun di Waingapu 2 ribu hektare. Di sini 65 hektare dan sedang dibangun Gorontalo 200 hektare, kita sedang bangun di Jawa Barat 14 ribu hektare, di Pantura. Hanya di (Jawa Barat) sana ikan, di sini udang,” kata Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mengembangkan proyek-proyek pangan berbasis protein di berbagai daerah. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga untuk meningkatkan volume ekspor dan mendatangkan devisa bagi negara.
“Di daerah-daerah kita mulai menambah. Kita akan bangun proyek yang menghasilkan protein dan untuk rakyat kita dan juga untuk jual ke luar negeri supaya kita bisa dapat devisa,” ucapnya.
Artikel Terkait
Ledakan Gas di Tambang Batu Bara China Tewaskan 90 Orang, Presiden Xi Instruksikan Investigasi
Polisi Tangkap Tiga Pengedar Narkoba di Dramaga, Amankan Sabu dan Sinte
AHY Dorong Alumni Taruna Nusantara Tak Ragu Masuk Politik demi Perubahan Bangsa
Gangguan Transmisi Akibat Cuaca Buruk Picu Padam Listrik Massal di Sejumlah Wilayah Sumatera