Komitmen untuk memperkuat ekosistem industri otomotif nasional kembali ditegaskan oleh PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) melalui program pelatihan strategis yang dirancang khusus bagi para mitra bisnis dan pemasok perusahaan. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 20 Mei 2026, di pabrik Hyundai itu berfokus pada pemahaman mendalam mengenai perjanjian perdagangan bebas global atau Free Trade Agreement (FTA), sebuah langkah yang dinilai krusial di tengah dinamika perdagangan internasional yang kian kompetitif.
Sebanyak 109 perwakilan manajemen dari berbagai perusahaan pemasok turut hadir dalam pelatihan tersebut. Acara ini juga mendapatkan dukungan langsung dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yang menunjukkan sinergi antara sektor industri dan regulator dalam mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal.
President Director HMMI, Hyunchul Bang, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian integral dari upaya perusahaan untuk membangun fondasi industri yang lebih kokoh dan berkelanjutan di Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan industri otomotif tidak dapat dipisahkan dari perkembangan mitra bisnis lokal yang menjadi tulang punggung rantai pasok.
“Kami percaya pertumbuhan industri otomotif Indonesia harus berjalan seiring dengan pertumbuhan industri dan mitra bisnis lokal. Melalui program pelatihan Free Trade Agreement ini, kami berharap kegiatan ini tak hanya bermanfaat untuk penguatan rantai pasok bagi perusahaan namun juga meningkatkan wawasan yang lebih luas dan pengetahuan praktis yang dapat membantu para mitra meningkatkan daya saing serta memperluas peluang mereka di pasar global,” ungkap Hyunchul dalam keterangan resminya. “Lebih jauh lagi, kami ingin membangun ekosistem industri yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dalam pelatihan tersebut, materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pemahaman regulasi perdagangan internasional, tata cara pemanfaatan FTA, prosedur ekspor-impor, hingga strategi memperluas partisipasi industri Indonesia dalam rantai pasok global. Pabrikan asal Korea Selatan itu menilai bahwa pemberdayaan pemasok melalui peningkatan wawasan strategis merupakan langkah esensial untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Program ini tidak hanya tentang memahami regulasi perdagangan, tetapi juga tentang memberdayakan pelaku industri Indonesia agar lebih siap menghadapi tantangan dan peluang global,” tegas Hyunchul Bang. “Dengan berkolaborasi bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, kami ingin menciptakan sinergi yang bermakna antara industri dan pemerintah dalam mengembangkan mitra bisnis lokal yang kapabel, adaptif, dan kompetitif secara global,” sambungnya.
Sementara itu, apresiasi datang dari Kepala Seksi Kerjasama Perdagangan Bebas III Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Didik Hariyanto. Ia menilai langkah HMMI dalam menjalankan edukasi rutin kepada para pemasok patut menjadi contoh bagi pelaku industri lainnya.
“PT HMMI sebagai perusahaan pengguna fasilitas FTA telah menunjukkan komitmen yang sangat baik dalam menjalankan kepatuhan terhadap ketentuan kepabeanan. Perusahaan ini secara konsisten melaksanakan berbagai kegiatan positif, khususnya melalui upaya edukasi berkala kepada para mitra bisnis serta pelaksanaan proses verifikasi secara sampling dan rutin guna memastikan implementasi ketentuan berjalan dengan baik dan sesuai regulasi,” ungkap Didik.
Program pelatihan FTA ini sendiri telah dijalankan HMMI selama tiga tahun terakhir. Pada penyelenggaraan tahun ini, perusahaan menggandeng Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk memberikan wawasan praktis yang lebih aplikatif, terutama dalam mendukung ekspansi bisnis dan peningkatan daya saing ekspor para pemasok.
Salah satu peserta pelatihan dari PT Kyoraku Blowmolding Indonesia, Mela Silvia Agustina, mengaku bahwa seminar tersebut memberikan pemahaman yang jauh lebih jelas mengenai regulasi perdagangan bebas global. Ia menilai materi yang disajikan sangat terstruktur dan aplikatif.
“Seminar FTA Education yang diselenggarakan oleh Hyundai benar-benar membuka mata kami. Sebagai pemasok, memahami regulasi perjanjian perdagangan bebas global seringkali membingungkan karena aturan yang dinamis. Namun, lewat pemaparan materi yang sangat terstruktur dan aplikatif, tim kami sekarang jauh lebih percaya diri dalam mengoptimalkan pemanfaatan tarif,” aku Mela.
Artikel Terkait
Pemerintah Tunggu Hasil Investigasi Penyebab Blackout di Sumatera
Presiden Prabowo Nyatakan Indonesia Capai Swasembada Pangan, Produksi Udang Kebumen Jadi Bukti
Kepala Intelijen AS Tulsi Gabbard Mundur untuk Rawat Suami yang Idap Kanker Tulang
Polisi Temukan Calon Pengantin Wanita yang Kabur Sebelum Akad Nikah di Hotel Jepara Bersama Kekasih