"Kalau siang memang panas," akunya. "Tapi kami tetap bersyukur. Setidaknya sudah ada tempat."
Perjuangan mereka belum usai. Hidup di huntara berarti harus mandiri memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan umumnya fokus pada tempat tinggal dan fasilitas dasar. Untuk urusan lauk-pauk dan kebutuhan lain, sering kali harus dicari sendiri.
"Kadang ada bantuan dari pemerintah atau orang-orang baik yang datang melihat kondisi kami," ungkap Yuliana.
Namun, itu tidak rutin. "Penghasilan sudah tidak ada lagi. Usaha kami hanyut semua," sambungnya, menggambarkan betapa sulitnya keadaan.
Di balik semua itu, harapan terbesarnya sederhana: segera punya rumah permanen. Pemerintah disebutkan telah merencanakan program hunian tetap (huntap) bagi warga yang rumahnya rusak berat, dan Yuliana termasuk di dalamnya.
"Kami yang rusak berat akan dapat rumah huntap. Lokasinya sudah diberitahukan," jelasnya. "Ada yang memilih tanah sendiri, ada juga yang di tanah pemerintah."
Bagi Yuliana dan tetangga-tetangganya, huntap bukan sekadar bangunan. Itu adalah simbol harapan, sebuah titik awal untuk memulai hidup dari nol lagi setelah segalanya terhenti oleh bencana.
"Kami berharap bisa segera kembali tinggal di kampung sendiri," katanya. "Itu yang paling kami tunggu sekarang."
Artikel Terkait
Polisi Gunung Putri Bantu Warga Buka Pintu Mobil yang Terkunci Otomatis
Jusuf Kalla dan Guru Besar Bahas Ancaman Defisit Anggaran Daerah
Paus Leo XIV Serukan Penghentian Kekerasan dan Kembali ke Dialog di Timur Tengah
NTT Data Luncurkan Pabrik AI Berbasis NVIDIA untuk Percepat Adopsi Perusahaan