Semangat untuk bangkit itu masih terasa, meski mereka kini tinggal di hunian sementara. Di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, para penyintas bencana perlahan mencoba menyusun kembali kepingan hidup mereka.
Yuliana, warga Dusun Meunasah Krueng, adalah salah satunya. Rumahnya hanyut tak bersisa diterjang banjir. Kini, bersama suami dan ketiga anaknya, ia menghuni sebuah unit huntara di Manyang Lancok.
"Sebelum puasa kami sudah di sini, hampir sebulan lah," ujar Yuliana.
Ia bercerita, sebelum pindah ke bangunan sementara ini, keluarganya harus bertahan di tenda pengungsian yang didirikan di pinggir jalan. "Di sana banyak debu, bising. Kalau di sini sudah lebih baik, tidak berdebu lagi," katanya saat ditemui Kamis lalu.
Bencana itu tak cuma merenggut tempat tinggal. Sumber penghidupan keluarga itu pun ikut lenyap. Rumah Yuliana sekaligus adalah warung kelontong kecil mereka. Semuanya habis dibawa arus.
"Rumah saya sudah tidak ada lagi. Barang-barang habis semua. Saya jualan di depan, kami tinggal di belakang," tuturnya dengan suara lirih.
Lalu ia menyambung, "Semua terbawa arus. Tidak ada yang tersisa."
Namun begitu, di tengah kepiluan itu, ada rasa syukur yang ia pegang. Huntara, meski sederhana, jauh lebih layak dibanding tenda. Setidaknya mereka punya atap yang tetap untuk berteduh.
Tentu, suasana di sini berbeda dengan kampung halaman. Siang hari terik panas menyengat, jauh dari sejuknya udara desa mereka dulu. Malam hari justru berubah dingin, sering diramaikan oleh celoteh dan tawa anak-anak yang bermain.
Artikel Terkait
Polisi Gunung Putri Bantu Warga Buka Pintu Mobil yang Terkunci Otomatis
Jusuf Kalla dan Guru Besar Bahas Ancaman Defisit Anggaran Daerah
Paus Leo XIV Serukan Penghentian Kekerasan dan Kembali ke Dialog di Timur Tengah
NTT Data Luncurkan Pabrik AI Berbasis NVIDIA untuk Percepat Adopsi Perusahaan