Paus Leo XIV Serukan Penghentian Kekerasan dan Kembali ke Dialog di Timur Tengah

- Minggu, 15 Maret 2026 | 22:00 WIB
Paus Leo XIV Serukan Penghentian Kekerasan dan Kembali ke Dialog di Timur Tengah

Dari balkon Basilika Santo Petrus, seruan itu kembali bergema. Paus Leo XIV, dalam doa Angelus mingguannya, sekali lagi mendesak diakhirinya kekerasan yang melanda Timur Tengah. Suaranya terdengar berat, penuh keprihatinan yang mendalam.

"Sudah dua minggu lebih, saudara-saudari terkasih, rakyat di sana hidup dalam kengerian perang," ujarnya, seperti dilaporkan AFP pada Minggu (15/3/2026).

Ribuan nyawa tak berdosa melayang. Banyak lagi yang terpaksa kabur, meninggalkan segala yang mereka miliki. Situasinya sungguh memilukan.

"Saya ingin menyatakan kembali kedekatan saya dengan mereka yang berduka," tambahnya. Serangan-serangan itu, yang menyasar sekolah, rumah sakit, hingga permukiman warga, telah meninggalkan luka yang dalam.

Di sisi lain, Paus secara khusus menyoroti situasi di Lebanon. Keadaan di sana disebutnya sangat mencemaskan.

Pidatonya kemudian berubah menjadi seruan langsung yang tegas. Dengan lantang dalam bahasa Italia, dia menyampaikan pesan kepada para pemegang keputusan.

"Atas nama umat Kristen Timur Tengah dan semua orang yang berkehendak baik, saya berpesan pada kalian yang bertanggung jawab: Hentikan tembakan! Segera buka kembali jalan dialog!"

Kata-katanya bergetar di udara. "Kekerasan," tegasnya, "tidak akan pernah membawa keadilan atau kedamaian yang didamba rakyat. Yang ada hanyalah kehancuran."

Konflik mematikan ini sendiri berawal dari serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada akhir Februari lalu, tepatnya 28 Februari 2026. Serangan itu merenggut nyawa Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat itu.

Balasan Iran pun datang tak tanggung-tanggung. Mereka menyerang Israel dan pangkalan-pangkalan AS di sekitar Teluk, bahkan sampai menutup akses Selat Hormuz. Korban jiwa terus berjatuhan. Menurut catatan dari pemerintah dan media setempat, sudah lebih dari 2.000 orang tewas sebagian besar berasal dari Iran.

Di tengah situasi yang semakin rumit itu, seruan Paus Leo terdengar seperti sebuah harapan yang tak pernah padam, meski terasa berat untuk diwujudkan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar