Ia lalu menyodorkan fakta. Dua dekade terakhir ini, perdebatan soal kewenangan antarlembaga negara masih kerap terjadi. Mulai dari pengujian undang-undang, sengketa kewenangan, sampai polemik di antara lembaga penegak hukum. “Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsolidasi tiga cabang kekuasaan yang ada saja masih membutuhkan penguatan,” tegas Ketua MPR RI ke-16 itu.
Di sisi lain, mengubah struktur kekuasaan negara bukan perkara sederhana. Bayangkan jika KPU benar-benar jadi cabang keempat. Implikasinya bakal luas sekali. Konstitusi harus diubah, mekanisme akuntabilitas dirancang ulang, hubungan dengan lembaga lain juga perlu disesuaikan. Artinya, kita harus membuka kembali kotak Pandora amendemen UUD 1945.
Belum lagi muncul pertanyaan lanjutan yang pelik. “Kalau KPU menjadi cabang kekuasaan keempat, pertanyaannya kemudian sangat banyak. Apakah lembaga independen lain seperti KPK, OJK, atau Bank Indonesia juga harus ditempatkan dalam cabang kekuasaan tersendiri?” jelas politisi Golkar ini.
“Jika semua lembaga independen dimasukkan ke dalam cabang kekuasaan baru, maka struktur negara bisa menjadi semakin kompleks,” sambungnya.
Menurut Bamsoet, tantangan pemilu kita saat ini sebenarnya lebih konkret. Fokusnya harusnya pada kualitas pelaksanaan di lapangan, integritas penyelenggara, dan konsolidasi sistem kepemiluan itu sendiri. Data KPU untuk Pemilu 2024 saja sudah bikin pusing: lebih dari 204 juta pemilih terdaftar, tersebar di lebih dari 820 ribu TPS. Itu menjadikannya salah satu pemilu terbesar di dunia. Kerumitan logistik dan manajemennya luar biasa.
Maka, alih-alih terjebak dalam wacana struktural yang rumit, Bamsoet menekankan hal yang lebih mendasar. “Karena itu, fokus utama kita seharusnya pada peningkatan kualitas penyelenggaraan pemilu, memperkuat regulasi kepemiluan, serta memastikan penyelenggara bekerja independen dan profesional,” pungkasnya.
Perdebatan cabang kekuasaan keempat memang penting sebagai bahan diskusi akademik. Tapi implementasinya? Itu perlu pertimbangan yang sangat, sangat matang. Jangan sampai niat memperbaiki malah justru menambah keruwetan yang sudah ada.
Artikel Terkait
Polisi Gunung Putri Bantu Warga Buka Pintu Mobil yang Terkunci Otomatis
Jusuf Kalla dan Guru Besar Bahas Ancaman Defisit Anggaran Daerah
Paus Leo XIV Serukan Penghentian Kekerasan dan Kembali ke Dialog di Timur Tengah
NTT Data Luncurkan Pabrik AI Berbasis NVIDIA untuk Percepat Adopsi Perusahaan