Setelah menghilang beberapa hari dari publik konon karena luka-luka akibat serangan udara pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, akhirnya muncul dengan pernyataan keras. Ia memerintahkan pasukannya untuk serius memblokade Selat Hormuz. Perintah itu disampaikannya tanpa basa-basi, menegaskan agar jalur air vital itu benar-benar ditutup untuk kapal-kapal yang melintas.
“Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan,” tegas Khamenei dalam pernyataannya, Kamis lalu. Padahal, selat sempit itu biasanya jadi jalur bagi seperempat perdagangan minyak dunia. Pernyataannya ini sekaligus mengakhiri spekulasi soal kondisinya pasca-serangan.
Namun begitu, ancaman tak berhenti di situ. Mojtaba, yang naik setelah ayah dan pendahulunya Ali Khamenei tewas dalam gelombang serangan AS-Israel, juga menyerukan balas dendam. Ia mendesak negara-negara Teluk untuk menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka.
“Saya bersumpah untuk membalas darah anak-anak dan cucu-cucu kita,” ucapnya, dengan nada penuh amarah.
Reaksi dari Garda Revolusi pun datang cepat. Komandan Angkatan Laut mereka, Alireza Tangsiri, langsung menyatakan kesiapan. Ia berjanji akan menghantam AS dan Israel, sambil tetap menjalankan strategi penutupan Selat Hormuz.
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing