“Sebagai tanggapan atas perintah panglima tertinggi, kami akan memberikan pukulan terkeras kepada musuh agresor,” kata Tangsiri. Targetnya jelas: mempertahankan blokade sambil melancarkan serangan balasan.
Efeknya sudah terasa. Di bawah tekanan Iran, aktivitas pengiriman di sekitar Selat Hormuz nyaris mandek selama beberapa hari belakangan. Beberapa kapal yang nekat melintas bahkan dilaporkan menjadi sasaran di perairan Teluk, dekat Uni Emirat Arab dan Irak. Situasinya makin mencekam.
Di sisi lain, gejolak ini menciptakan tekanan politik besar bagi Presiden AS Donald Trump. Dampak ekonomi global akibat krisis ini kian nyata, dan pesan-pesan yang keluar dari Washington terkesan plin-plan. Trump sendiri tampak bingung menentukan kapan serangan udara AS ini akan berakhir.
Saat harga minyak melambung di atas angka 100 dolar AS per barel, Trump malah menulis di media sosial. Fokusnya agak melompat. “Yang jauh lebih menarik dan penting bagi saya, sebagai Presiden, adalah menghentikan Kekaisaran jahat, Iran, agar tidak memiliki Senjata Nuklir,” tulisnya. Menurutnya, hal itulah yang bisa menghancurkan Timur Tengah bahkan dunia.
Jadi, situasinya seperti ini: ancaman blokade di satu sisi, tekanan pasar dan politik di sisi lain. Semuanya berbaur jadi satu krisis yang ujungnya masih gelap.
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing