Di sisi lain, harga minyak justru mencuri perhatian. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melesat 4,55 persen. Padahal, upaya meredamnya sudah dilakukan.
Badan Energi Internasional (IEA) baru saja mengumumkan pelepasan cadangan strategis terbesar dalam sejarah: 400 juta barel. Langkah darurat ini jelas ditujukan untuk meredam gejolak pasokan akibat konflik yang masih berlangsung. Tapi nyatanya, pasar seolah mengabaikan intervensi besar-besaran itu. Minyak tetap meroket.
Sementara itu, laporan inflasi AS datang tanpa kejutan. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,3 persen secara bulanan, mendorong inflasi tahunan menjadi 2,4 persen. Angka ini sesuai prediksi pasar.
CPI inti, yang mengesampingkan komponen makanan dan energi yang fluktuatif, juga naik 0,2 persen secara bulanan dengan tingkat tahunan 2,5 persen. Tidak ada yang mengejutkan dari data ini.
Namun begitu, ada satu data lain yang patut dicatat. Departemen Keuangan AS melaporkan defisit anggaran federal telah tembus USD1 triliun untuk tahun fiskal hingga Februari. Kabar baiknya? Angka ini ternyata jauh lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu. Setitik cahaya di tengah hiruk-pikuk pasar valas dan komoditas energi.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Stok BBM dan Gas Aman, Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah
Polres Bogor Kerahkan 65 Supeltas dan 150 Personel Tambahan Antisipasi Lonjakan Kendaraan ke Puncak Saat Libur Lebaran
DPR Terima Tiga Surpres dari Presiden, Bahas RUU Saksi hingga Kerja Sama dengan Kanada
Bandara Hang Nadim Batam Proyeksikan 280 Ribu Penumpang Mudik Lebaran