Rapat kabinet pada Senin kemarin akhirnya memutuskan sepaket langkah. Kantor pemerintah kecuali bank akan beralih ke sistem kerja empat hari dalam seminggu. Separuh stafnya harus WFH. Gaji pegawai pemerintah juga bakal dipotong, begitu pula tunjangan bahan bakar untuk kendaraan dinas. Ambulans dapat pengecualian, tapi untuk kendaraan lain, tunjangannya dipangkas 50% untuk dua bulan ke depan.
Tak cuma itu. Rapat juga setuju untuk melarang pembelian peralatan baru dan memangkas perjalanan dinas ke luar negeri. Kecuali, kata Sharif, perjalanan yang benar-benar penting untuk kemajuan negara. "Pertemuan daring akan diprioritaskan," tambahnya.
Di sisi lain, dunia pendidikan juga kena imbas. Libur sekolah akan diperpanjang. Setelah dua minggu, pembelajaran dialihkan ke sistem daring.
Pakistan ternyata tidak sendirian. Krisis ini juga melanda negara Asia Selatan lainnya. Bangladesh, yang 95% kebutuhan minyak dan gasnya diimpor, terpaksa memberlakukan penjatahan bahan bakar sejak Minggu. Antrean panjang pun terjadi, disusul ancaman kerusuhan yang bikin was-was. Mereka bahkan sampai membatalkan pertunjukan lampu untuk perayaan kemerdekaan dan Ramadan. Situasinya benar-benar tegang.
Jadi, begitulah keadaannya. Langkah-langkah penghematan yang drastis ini menunjukkan betapa rapuhnya negara-negara pengimpor energi saat gejolak geopolitik terjadi. Rakyat biasa, sekali lagi, yang harus menanggung bebannya.
Artikel Terkait
Puan Maharani Desak Evaluasi Biaya Politik Usai OTT KPK Tangkap Bupati Rejang Lebong
Pernikahan Siri Berakhir Tragis, Perempuan di Depok Dicekik hingga Tewas oleh Suami
Macron: Serangan Udara Tak Cukup Ubah Politik Iran, Prancis Siapkan Misi Buka Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri Iran Klaim Siapkan Banyak Kejutan untuk Balas AS