Pasar saham kita lagi terpuruk, ya. IHSG anjlok tajam, sentimen investor pun ikut lesu. Tapi jangan buru-buru panik. Bagi sebagian analis, justru di saat seperti inilah peluang itu muncul. Koreksi sekitar 15 persen dari puncak ini lebih banyak digerakkan oleh faktor eksternal, bukan karena fundamental perusahaan yang tiba-tiba bobrok.
Menurut Arief Putra, Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas, ada beberapa hal yang memicu tekanan belakangan ini. Peringatan dari MSCI, penurunan outlook sovereign, plus ketegangan geopolitik yang makin panas. Ia menyampaikan analisis ini dalam riset tertanggal 6 Maret 2026.
“Namun, guncangan seperti ini dalam catatan sejarah pasar biasanya cuma sementara,” katanya.
“Justru jadi pintu masuk yang menarik. Apalagi dengan pemilu sela AS yang makin dekat, kecil kemungkinan Washington membiarkan konflik geopolitik berkepanjangan. Jadi, tekanan saat ini sifatnya lebih ke sentimen,” tambah Arief.
Nah, yang menarik, di tengah koreksi luas itu, saham-saham unggulan di sektor-sektor kunci malah ikut terperosok. Padahal, bisnis intinya tetap solid. Ambil contoh perbankan. Tiga bank besar negeri ini diprediksi akan menikmati manfaat dari peningkatan belanja pemerintah. Ekonomi Indonesia tahun ini bahkan berpeluang tumbuh di atas 6 persen.
Tapi lihatlah harganya. Sudah anjlok 30-40 persen dari puncak. Valuasi price-to-book-nya terkompresi hingga 35-45 persen. Menurut Sucor, penurunan ini tidak sepadan dengan fundamental yang sebenarnya masih kuat.
Begitu sentimen berbalik positif, Arief memperkirakan saham-saham seperti BBCA, BBRI, dan BMRI bisa memberikan total return sekitar 35-45 persen dalam 16 bulan ke depan. Angka yang cukup menggiurkan, bukan?
Artikel Terkait
Krakatau Steel Genjot Infrastruktur Modular untuk Jawab Kebutuhan Sosial
IHSG Anjlok 3,53%, Mayoritas Sektor Terjun ke Zona Merah
Rupiah Tembus Rp17.019, Catat Rekor Terendah Baru Lampaui Krisis 1998
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi 3 Bulan, Dihantui Ketegangan Timur Tengah