Menteri Luar Negeri Iran Klaim Siapkan Banyak Kejutan untuk Balas AS

- Selasa, 10 Maret 2026 | 12:00 WIB
Menteri Luar Negeri Iran Klaim Siapkan Banyak Kejutan untuk Balas AS

Di tengah ketegangan yang terus memanas, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Lewat akun media sosialnya di platform X, dia mengklaim negaranya punya "banyak kejutan yang disiapkan" untuk Amerika Serikat. Pernyataan itu sekaligus menegaskan kesiapan Iran menghadapi apa yang disebutnya sebagai setiap "plot" dari Washington.

Araghchi tak cuma mengancam. Dia juga menyelipkan sindiran pedas. AS baru-baru ini meluncurkan Operasi Epic Fury, sebuah serangan yang ditujukan untuk melawan Iran. Menanggapi hal itu, diplomat Iran itu dengan sinis menyebutnya sebagai "Operasi Kesalahan Epik". Menurutnya, operasi itu justru berbuah bumerang.

"Sembilan hari setelah operasi dimulai, harga minyak naik jadi dua kali lipat. Semua komoditas lainnya juga melonjak tajam," tulis Araghchi dalam unggahannya.

Dia lalu menguraikan analisisnya tentang motif AS. "Kami tahu AS sedang merencanakan serangan terhadap situs-situs minyak dan nuklir kami. Harapan mereka sederhana: menahan guncangan inflasi besar-besaran yang sedang melanda."

Namun begitu, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam.

"Iran sepenuhnya siap. Dan kami juga memiliki banyak kejutan yang telah disiapkan," tambahnya, mengulang ancaman yang terkesan mengambang namun penuh arti.

Ketegangan ini tentu bukan muncul tiba-tiba. Akarnya bisa dilacak ke insiden tragis akhir Februari lalu. Kala itu, Israel dan AS melakukan serangan gabungan yang menggemparkan. Sasaran mereka adalah Teheran dan beberapa kota lain di Iran. Serangan itu merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sejumlah komandan militer senior, dan tak sedikit warga sipil yang jadi korban.

Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone. Sasaran balasan mereka adalah pangkalan-pangkalan militer Israel dan AS yang tersebar di kawasan Timur Tengah.

Dampaknya kini terasa meluas. Konflik ini telah menimbulkan kekhawatiran serius di tingkat regional, bahkan global. Fokus utamanya ada pada pasar energi. Gangguan ekspor minyak menjadi ancaman nyata, apalagi dengan risiko terhadap pergerakan kapal-kapal tanker yang harus melintasi Selat Hormuz jalur vital bagi pasokan minyak dunia. Situasinya memang mencemaskan, dan kata-kata Araghchi tadi hanya menambah daftar ketidakpastian.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar