KAI Larang Penumpang Gunakan Kompor Listrik di Kereta, Sebut Risiko Korsleting dan Gangguan Operasional

- Jumat, 24 April 2026 | 18:15 WIB
KAI Larang Penumpang Gunakan Kompor Listrik di Kereta, Sebut Risiko Korsleting dan Gangguan Operasional

Viral Penumpang Masak Mi Instan Pakai Kompor Listrik di Kereta, KAI Angkat Bicara

Baru-baru ini jagat maya dihebohkan oleh sebuah video. Seorang penumpang kedapatan sedang memasak mi instan menggunakan kompor listrik di dalam gerbong KA Murhani, tepatnya di Stasiun Tegal. Kejadian itu terjadi pada Rabu, 22 April 2026 lalu.

Otomatis, aksi ini langsung menuai sorotan. Pasalnya, menggunakan barang elektronik berdaya besar di stop kontak kereta api bukanlah hal yang sepele. PT Kereta Api Indonesia (Persero) pun angkat bicara.

Melalui Daerah Operasi 1 Jakarta, KAI dengan tegas menyatakan bahwa stop kontak yang tersedia di dalam kereta punya peruntukan khusus. Bukan untuk sembarang colok.

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, memberikan penjelasan. Menurutnya, fasilitas colokan listrik itu cuma diperuntukkan buat perangkat-perangkat berdaya rendah. Misalnya saja ponsel, laptop, tablet, atau perangkat pendukung sejenis.

"Daya listrik di dalam kereta itu prioritas utamanya untuk menunjang fasilitas utama," ujar Franoto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Ia merinci, fasilitas utama itu seperti AC, penerangan, sistem pintu otomatis, dan perangkat informasi penumpang. "Jadi, tidak ada kapasitas tambahan untuk alat listrik berdaya besar," tegasnya.

Barang Elektronik yang Dilarang Dicolok

Franoto kemudian membeberkan daftar alat-alat listrik yang tidak boleh digunakan melalui stop kontak di kereta. Soalnya, barang-barang ini berisiko mengganggu sistem kelistrikan. Beberapa di antaranya:

  • Kompor listrik
  • Penanak nasi (rice cooker)
  • Pengering rambut (hair dryer)
  • Alat lain yang punya elemen pemanas

Alasannya? Perangkat-perangkat semacam ini punya konsumsi daya yang besar. Mereka bisa memicu kelebihan beban, atau yang biasa disebut overload.

Risiko yang Mengintai

Kalau tetap dipaksakan, dampaknya bisa serius. Menurut Franoto, hal ini bisa mengganggu operasional kereta secara keseluruhan.

Misalnya, ketika sistem kelistrikan mengalami overload, bisa terjadi trip. Akibatnya, fasilitas utama seperti AC dan lampu bisa padam. Ujung-ujungnya, kenyamanan dan keselamatan penumpang jadi taruhannya.

Belum lagi risiko lainnya. Penggunaan alat berdaya tinggi bisa bikin instalasi listrik kepanasan. Korsleting pun mengintai. Dalam ruang tertutup seperti gerbong kereta, ini bisa memicu kebakaran.

"Tindakan seperti itu adalah bentuk penyalahgunaan fasilitas," ujar Franoto. "Dan yang paling penting, bisa membahayakan keselamatan perjalanan."

Imbauan untuk Para Penumpang

KAI pun mengingatkan kembali. Semua fasilitas di dalam kereta maupun stasiun adalah bagian dari sistem pelayanan publik. Sudah seharusnya dijaga bersama.

"Kami tegaskan, setiap fasilitas itu harus dijaga. Penyalahgunaan bukan cuma melanggar aturan, tapi juga bisa membahayakan keselamatan semua pelanggan," kata Franoto lagi.

Nah, buat penumpang yang butuh isi daya, KAI punya solusi. Mereka menyediakan fasilitas pengisian daya di area stasiun. Bahkan, beberapa stasiun sudah dilengkapi dengan ruang kerja atau coworking space. Jadi, kebutuhan penumpang sebelum keberangkatan tetap terpenuhi.

Pada akhirnya, KAI berharap masyarakat semakin paham. Ada batasan dalam penggunaan listrik di dalam kereta. Jangan sampai tindakan yang terlihat sepele justru mengganggu operasional dan membahayakan keselamatan bersama.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini