"Sebagian dari strategi ini adalah menguras kemampuan pencegat," papar Grajewski. "Iran melakukan hal ini dengan UAV dan drone. Itu juga yang dilakukan Rusia di Ukraina."
Data dari Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) di Tel Aviv mencatat, AS dan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 serangan multi-munisi. Sementara Iran meluncurkan 571 rudal dan 1.391 drone banyak di antaranya berhasil dicegat. Mempertahankan tempo seperti ini, kata para pakar, akan makin berat bagi kedua belah pihak.
Ketahanan dan Kelelahan di Dalam
Dari sisi jumlah personel, Iran punya angkatan bersenjata yang besar. Laporan IISS Military Balance 2025 menyebut ada sekitar 610.000 personel aktif. Itu termasuk 350.000 prajurit angkatan darat reguler dan 190.000 anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menangani program rudal dan operasi regional.
Mereka juga punya jaringan sekutu dari Houthi di Yaman, kelompok di Irak, Hizbullah, hingga Hamas. Tapi poros perlawanan ini sudah mendapat pukulan berat dalam beberapa bulan terakhir.
Pengalaman Iran dalam konflik berkepanjangan, sejak era Perang Iran-Irak, membentuk ketahanannya. Namun, daya tahan strategis mereka sekarang sangat bergantung pada kohesi internal.
"Semua bergantung pada apakah elite keamanan dan politik tetap bersatu atau justru terpecah," kata Grajewski. "Jika terjadi perpecahan, strategi militer bisa semakin kacau."
Ia menambahkan, ada tanda-tanda kelelahan yang nyata. Operator rudal tampak di bawah tekanan berat, yang berujung pada tembakan yang meleset atau tidak akurat. "Banyak operasi yang lebih tidak terorganisir, dengan tingkat kelelahan yang tinggi."
Kondisi seperti ini, ditambah serangan terus-menerus terhadap pasokan dan pasukan rudal, bisa memicu sesuatu yang berbahaya: eskalasi yang tidak disengaja.
Taruhan yang Berisiko
Grajewski menyoroti insiden di mana Turki lewat pertahanan udara NATO menghancurkan sebuah rudal balistik Iran yang menuju wilayah udaranya. Ankara pun memperingatkan semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang memicu eskalasi lebih lanjut.
Tapi tampaknya, Iran sedang berjudi. Tujuan luas mereka, menurut Grajewski, adalah menciptakan kondisi yang "begitu tak tertahankan" bagi negara-negara tetangga, sehingga mereka terdorong untuk menekan AS mencari penyelesaian negosiasi.
"Sejauh ini, saya belum tahu apakah itu akan berhasil, tetapi tampaknya itulah taruhan Iran saat ini," tambahnya.
Taruhan itu bisa berbalik arah. Hellyer memberikan skenario lain. Negara-negara Teluk, yang awalnya mungkin menentang perang, bisa berubah pikiran jika merasa keamanan mereka sendiri terancam oleh serangan balasan Iran. Mereka mungkin justru akan mendukung aksi AS untuk mengakhiri ancaman langsung dari Iran.
"Saya tidak berpikir negara-negara Teluk sudah sampai pada titik itu," ujarnya. "Tetapi saya rasa waktunya semakin menipis."
Perang ini, pada akhirnya, adalah ujian ketahanan dan perhitungan strategis yang rumit. Setiap pihak memainkan kartunya, dengan risiko eskalasi yang selalu mengintai di setiap sudut.
Artikel Terkait
Ledakan Tabung Gas di Depok Tewaskan Pedagang Bakso
Kedubes Iran Tegaskan Negara Tak Bergantung pada Satu Individu Usai Pengangkatan Pemimpin Baru
Telkom Lepas Saham AdMedika ke Fullerton Health
Iran Konfirmasi 104 Awak Kapal Perang Tewas Ditenggelamkan AS di Lepas Sri Lanka