"Kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan menggunakan energi secara bijak. Pembelian BBM sesuai kebutuhan akan membantu menjaga distribusi tetap stabil sehingga seluruh masyarakat dapat memperoleh akses energi secara merata," imbaunya.
Lantas, mengapa cadangan kita cuma 20-an hari? Menteri ESDM Bahlil Lahadalia punya penjelasannya. Persoalannya terletak pada kapasitas penyimpanan atau storage yang terbatas. Saat ini, kapasitas maksimalnya hanya 25 hari. Dalam rapat terakhir dengan DEN dan Pertamina, cadangan yang ada memang berkisar 22-23 hari.
"Jangan salah persepsi," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. "Memang sejak lama kemampuan storage kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21-25 hari."
Logikanya sederhana. Bisa saja pemerintah mengadakan cadangan lebih banyak, tapi mau disimpan di mana? "Kalau diadakan mau disimpan di mana? Storagenya nggak cukup," bebernya. Jadi, selama ini pasokan disesuaikan dengan daya tampung yang ada.
Namun begitu, kondisi itu tak akan dibiarkan selamanya. Bahlil mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkannya langsung untuk membangun storage tambahan. Targetnya ambisius: mendongkrak cadangan pasokan BBM nasional hingga 90 hari atau setara tiga bulan.
Angka itu bukan asal pilih. Itu adalah standar minimum konsensus global. "Insyaallah storage-nya sampai 3 bulan, ini lah standar minimum konsensus global," pungkas Bahlil.
Rencana pembangunan itu, jika terwujud, akan mengubah peta ketahanan energi Indonesia secara signifikan. Setidaknya, kejadian antrean panjang seperti di Aceh bisa diminimalisir.
Artikel Terkait
Studi Ungkap Dampak Ekonomi Ramadan: Harga Pangan Naik, Produksi Industri Turun
BI Ingatkan Bahaya Tukar Uang di Pinggir Jalan, Ajak Masyarakat Gunakan Layanan Resmi
BRIN Temukan Mikroplastik di Kedalaman 2.450 Meter di Jalur Arus Lintas Indonesia
HNW: Ramadan Momentum Perkuat Iman, Ilmu, dan Amal untuk Keunggulan Umat