Di kompleks kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, suasana menjelang buka puasa terasa hangat. Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), hadir dalam acara buka bersama sekaligus peringatan Nuzulul Quran itu. Menurutnya, bulan Ramadan ini bukan cuma soal menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat tiga pilar: iman, ilmu, dan amal. Ketiganya, kata HNW, adalah fondasi untuk menciptakan keunggulan umat.
“Kalau bicara tentang iman, ilmu, amal, dan keunggulan, maka salah satu kata kuncinya adalah ideologi Al-Ma'un yang sudah populer dan mentradisi di Muhammadiyah,” ujar HNW dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).
“Ini adalah bagaimana menghadirkan Al-Quran yang berjalan, Al-Quran yang membumi, yang nyata dalam tindakan.”
Acara yang digelar di Masjid At-Taqwa, Tangerang Selatan, pada Kamis lalu itu memang bernuansa kental dengan semangat keislaman dan keilmuan. HNW merasa bersyukur bisa kembali dipertemukan dengan Ramadan di lingkungan kampus. Tema keunggulan Ramadan, menurutnya, sejalan betul dengan ideologi Al-Ma'un yang diusung Muhammadiyah.
Ia lantas mencontohkan bagaimana pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sudah lebih dulu mempraktikkan nilai-nilai Quran secara konkret. Tradisi itulah yang perlu dilanjutkan. Soalnya, terbukti mampu menghadirkan keunggulan melalui paduan yang pas antara keyakinan, pengetahuan, dan aksi nyata.
Di sisi lain, HNW juga menyentuh isu yang tak kalah penting: kepedulian terhadap Palestina. Ini disebutnya sebagai bentuk nyata dari perpaduan iman, ilmu, dan amal itu tadi. Sejarah mencatat, tokoh muda Muhammadiyah Abdul Kahar Muzakir sudah terlibat dalam perjuangan Palestina sejak 1931 silam. Usianya kala itu baru 24 tahun.
“Beliau bahkan dipercaya menjadi sekretaris Mufti Palestina, Mufti al-Quds al-Sayyid al-Amin al-Husayni,” katanya.
“Ini menunjukkan bahwa perpaduan iman ilmu dan amal hadirkan kepedulian terhadap Palestina memang sudah mentradisi dan menjadi bagian dari sejarah gerakan Muhammadiyah.”
Spirit seperti inilah yang harus terus dihidupkan. Terutama di bulan Ramadan, yang seharusnya jadi momentum membangkitkan optimisme. Dunia memang penuh tantangan, seringkali memunculkan pesimisme. Tapi HNW mengingatkan pada Perang Badar. Pasukan Muslim yang jumlahnya jauh lebih kecil ternyata bisa meraih kemenangan besar.
“Ramadan menghadirkan intervensi sejarah yang menunjukkan bahwa sesuatu yang tampaknya mustahil bisa terjadi,” ujarnya.
“Dari situ kita belajar untuk tidak terjebak dalam pesimisme, tapi optimisme. Begitulah ketika sekaligus diamalkan iman, ilmu dan amal.”
Pesan optimisme itu, lanjutnya, juga bertebaran dalam ayat-ayat puasa di Surah Al-Baqarah. Puasa tak cuma berorientasi hasil, tapi juga proses pembentukan karakter yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
Andre Rosiade Bagikan 500 Paket Sembako ke Warga Jati Jelang Ramadan
Prancis Perkuat Armada di Mediterania dan Teluk Amid Ketegangan Timur Tengah
Teknologi Laser Diklaim Bantu Atasi Penggumpalan Darah dan Cegah Komplikasi
BNN dan Bea Cukai Bongkar Lab Mephedrone di Vila Mewah Bali, Dua WN Rusia Diamankan