Di Gedung Putih, Kamis lalu, Donald Trump tak hanya membicarakan Iran. Presiden AS itu mengalihkan pandangannya ke sebuah pulau di Karibia. "Perubahan rezim di Kuba," ujarnya, "hanya masalah waktu." Pernyataannya ini seperti memperbarui ancaman lama, sekaligus sinyal bahwa Havana bisa jadi target berikutnya setelah konflik dengan Tehran beres.
Menurut Trump, fokus AS saat ini memang masih di Timur Tengah. Tapi nada suaranya jelas. "Kami pikir kami ingin memperbaiki – menyelesaikan yang satu ini [Iran] terlebih dahulu, tetapi itu hanya masalah waktu," tambahnya. Dia berbicara di sela-sela kunjungan tim sepak bola Inter Miami, dengan santai namun penuh keyakinan.
Trump juga menyelipkan pujian untuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Dia sebut putra imigran Kuba kelahiran Miami itu telah melakukan "pekerjaan fantastis" terkait negaranya sendiri. Pujian ini bukan tanpa alasan. AS memang telah memperketat sanksi, memblokade pasokan minyak hingga Kuba dilaporkan mengalami kelangkaan bahan bakar dan makanan yang cukup parah.
Lalu, bagaimana dengan Iran? Trump menggembar-gemborkan serangan gabungan AS dan Israel yang, katanya, terus "menghancurkan musuh sepenuhnya." Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Sabtu lalu itu konon menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah komandan militer senior. Korban jiwa warga sipil juga tidak sedikit, termasuk sekitar 160 siswi dalam sebuah insiden yang oleh New York Times dikaitkan dengan AS.
Iran sendiri bersikukuh program nuklirnya untuk damai. Tapi bagi Washington, alasan itu sudah cukup untuk bertindak.
Nah, usai Iran, giliran siapa? Isyarat tentang Kuba ini sebenarnya bukan hal baru. Senator Republik Lindsey Graham sudah lebih dulu bersuara. "Kuba selanjutnya," katanya dalam wawancara dengan Fox News, Minggu lalu. Trump sendiri, dalam percakapan terpisah dengan Politico, memprediksi dengan lugas: begitu pemerintah Iran tumbang, "Kuba juga akan jatuh."
Klaim keberhasilan juga dilontarkan Trump. Dia bilang tekanan ekonominya berhasil memaksa Havana ingin bernegosiasi. "Kami memutus semua pasokan minyak, semua uang," katanya kepada Politico. "Dan mereka ingin membuat kesepakatan."
Faktanya, sejak awal Januari, tak ada satu pun kapal pengangkut minyak yang berhasil merapat ke Kuba. Akibatnya, penerbangan dibatalkan, pemadaman listrik merajalela, dan krisis ekonomi yang sudah pelik jadi makin runyam. Blokade AS terhadap minyak Venezuela – sumber vital Kuba – adalah pukulan utamanya. Ditambah tekanan AS pada Meksiko untuk menghentikan pengiriman, pulau itu benar-benar terisolasi.
Operasi serupa di Venezuela jadi preseden. Trump pernah menyatakan AS akan "sangat terlibat" dalam menentukan siapa pengganti Nicolas Maduro. Kini, dia mengisyaratkan hal yang sama bisa terjadi di Havana. Menangkap Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, dalam pandangannya, adalah operasi yang "tidak akan terlalu sulit."
Semuanya kini bergantung pada waktu. Dan Trump tampaknya sedang menghitungnya.
Artikel Terkait
Komunikasi Insanul Fahmi dan Wardatina Mawa Membaik Demi Kepentingan Anak di Tengah Proses Perceraian
Air Kelapa Disebut Bantu Jaga Kelembapan dan Cegah Penuaan Dini pada Kulit
Dzulqadah, Bulan Haram yang Menyimpan Sejarah Penting Umat Islam
The Strokes Tampilkan Tokoh Korban Intervensi Asing di Panggung Coachella