BRIN Temukan Mikroplastik di Kedalaman 2.450 Meter di Jalur Arus Lintas Indonesia

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 10:25 WIB
BRIN Temukan Mikroplastik di Kedalaman 2.450 Meter di Jalur Arus Lintas Indonesia

Di kedalaman hampir dua setengah kilometer, di jalur arus paling vital di perairan Indonesia, para peneliti menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan: serpihan plastik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini mengungkap temuan mikroplastik di kedalaman sekitar 2.450 meter, tepatnya di jalur utama Arus Lintas Indonesia. Partikel-partikel halus itu, kata mereka, berpotensi merambat naik ke rantai makanan laut dan pada akhirnya berakhir di piring kita.

Laporan ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Marine Pollution Bulletin awal tahun ini. Corry Yanti Manullang, peneliti utama dari BRIN, memimpin tim yang terdiri dari ilmuwan dalam dan luar negeri.

“Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia,” ujar Corry.

“Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” tambahnya.

Arus Lintas Indonesia sendiri adalah sistem arus laut yang sangat penting. Ia bagai pintu gerbang yang mengalirkan air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, melewati selat-selat kunci seperti Makassar, Alas, dan Lombok. Selama ini, penelitian tentang Arlindo lebih banyak menyoroti aspek fisik laut suhu, salinitas, dan pola arusnya. Namun, kajian tentang polusi plastik di kolom air, apalagi hingga ke dasar laut, masih sangat jarang.

“Penelitian ini menjadi salah satu studi awal yang mengkaji distribusi vertikal mikroplastik hingga laut dalam di jalur Arlindo,” jelas Corry.

“Selama ini, sebagian besar penelitian mikroplastik di perairan Indonesia masih berfokus pada lapisan permukaan atau wilayah pesisir,” imbuhnya.

Ekspedisi untuk penelitian ini dilakukan pada awal 2021. Tim mengambil sampel dari 11 titik yang membentang dari Selat Makassar hingga Selat Lombok. Mereka menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD, memungkinkan pengambilan air pada kedalaman spesifik.

“Botol sampel diturunkan ke laut, kemudian ditutup pada kedalaman yang sudah ditentukan, misalnya 50 meter, 200 meter, hingga ribuan meter,” papar Corry.

Dari analisis terhadap 872 liter air laut, mereka menemukan lebih dari 900 partikel mikroplastik. Yang mencengangkan, partikel ini ditemukan di semua stasiun, bahkan di titik terdalam lebih dari dua kilometer. Rata-rata konsentrasinya sekitar satu partikel per liter.

Lebih dari 90% partikel yang ditemukan berbentuk serat atau fiber. Jenis ini, menurut Corry, umumnya berasal dari tekstil sintetis.

“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” jelasnya.

Selain serat, analisis laboratorium juga mengidentifikasi polimer seperti polyester dan polypropylene. Temuan ini menunjukkan sesuatu yang suram: laut dalam bukanlah tempat yang bebas dari polusi. Ia justru berpotensi menjadi tempat penumpukan akhir bagi sampah plastik yang tak terlihat mata.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar