Meski begitu, ada optimisme. Isu ini sekarang sudah masuk agenda nasional, didorong oleh perhatian politik yang meningkat. Perjuangan mereka tak lagi sendiri.
Kalau kebijakan ini benar-benar terwujud, dampaknya akan luas. Guru yang sejahtera biasanya lebih fokus mengajar, punya kesempatan kembangkan diri. Kualitas pembelajaran pun bisa naik. Madrasah, yang kerap dipandang sebagai 'pendidikan pinggiran', akan semakin kuat posisinya. Ini investasi penting untuk pendidikan berbasis karakter dan nilai keagamaan.
Tapi agar efektif, perlu langkah konkret. Data kebutuhan guru harus akurat. Harus ada afirmasi untuk guru yang sudah puluhan tahun mengabdi. Jangan sampai mereka yang senior justru tersisih. Dan setelah diangkat, pembinaan berkelanjutan mutlak diperlukan.
Pada akhirnya, ini semua bukan cuma soal status kepegawaian. Ini soal bagaimana negara menghargai setiap pilar pendidikan. Madrasah telah membentuk jutaan anak bangsa. Gurunya menanamkan bukan hanya ilmu, tapi juga moral dan toleransi.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah mereka layak diakui. Tapi, kapan pengakuan itu akan datang? Seberapa cepat negara bisa bergerak, agar pengabdian yang tulus itu tak lagi berujung pada ketidakpastian yang tak berkesudahan.
Artikel Terkait
Polisi Lacak Alamat Pelaku Diduga Tiga Kali Mencuri Uang Takziah di Jakarta
Wamen PPA Dzulfikar Bertemu Jokowi di Solo, Lebih Banyak Nostalgia
Prabowo Tegaskan Indonesia Tetap di Board of Peace, Siap Tarik Diri Jika Tak Ada Kemajuan
Pandji Pragiwaksono Kembali Diperiksa Polisi Pekan Depan Terkait Lawakan Toraja