Di tengah hiruk-pikuk isu akuisisi Greenland, Menteri Luar Negeri Sugiono dengan tegas menyuarakan sikap netral Indonesia. Posisi ini diambil dalam situasi global yang, menurutnya, benar-benar tidak menentu.
Greenland sendiri adalah pulau yang secara resmi masih berada di bawah kedaulatan Denmark. Namun, kabarnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump punya keinginan lain: ingin menganeksasi wilayah itu jadi bagian dari AS. Gagasan ini tentu saja memicu berbagai spekulasi.
Menurut Sugiono, dalam dinamika seperti ini, fokus utama Indonesia tetaplah kepentingan nasionalnya sendiri. "Kita ada dalam posisi non-align (tidak bersekutu). Kita sadar bahwa dunia sekarang sangat dinamis situasinya," ujarnya.
Namun begitu, dia melanjutkan, "Kita juga harus ingat bahwa ada kepentingan nasional yang harus kita jaga." Pernyataan itu disampaikannya dalam jumpa pers di Swiss, Sabtu lalu (24/1).
Lebih jauh, Sugiono menekankan bahwa Indonesia selalu mendambakan perdamaian dan stabilitas. Tanpa kedua hal itu, kata dia, kemakmuran global hanyalah mimpi belaka.
Pandangan ini sejalan dengan apa yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto sebelumnya.
"Seperti yang disampaikan juga kemarin oleh Bapak Presiden bahwa tanpa stabilitas, tanpa perdamaian, tidak mungkin mencapai suatu keadaan yang di mana dunia ini makmur. Saya kira itu yang menjadi posisi kita," tutur Sugiono.
Jadi, intinya jelas. Di tengah tarik-menarik kepentingan negara besar, Indonesia memilih untuk berdiri di tengah, menjaga netralitas, sambil tetap waspada pada kepentingannya sendiri. Itu sikap yang dipegang teguh, setidaknya untuk saat ini.
Artikel Terkait
Menteri Agama: Media Arus Utama Harus Jadi Perekat Persatuan Bangsa di Tengah Derasnya Informasi
Indonesia Siap Jadi Pusat Dialog Islam Moderat Dunia Lewat Konferensi Imam Masjid Internasional 2026
Andi Taletting Langi Resmi Pimpin IKA Ilmu Politik Unhas, Canangkan Lima Program Prioritas
Petani Papua Siap Bergabung dalam Program Cetak Sawah, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp5 Triliun