Serangan Israel ke Hizbullah di Lebanon Ancam Kesepakatan Damai AS-Iran

- Minggu, 14 Juni 2026 | 22:20 WIB
Serangan Israel ke Hizbullah di Lebanon Ancam Kesepakatan Damai AS-Iran

Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dirancang untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz berada dalam situasi yang genting setelah Israel kembali melancarkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Eskalasi militer terbaru ini memicu keraguan serius mengenai kelangsungan perundingan yang sebelumnya disebut-sebut akan segera ditandatangani.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melalui pernyataan resmi di media sosial mengonfirmasi bahwa mereka telah menyerang pusat komando Hizbullah di pinggiran selatan Beirut. Serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas aksi Hizbullah yang sebelumnya melancarkan serangan udara yang menargetkan warga sipil Israel dan personel IDF yang tengah beroperasi di Lebanon selatan.

Sementara itu, reaksi keras langsung muncul dari Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, melalui unggahan di platform X, secara terbuka mempertanyakan eskalasi tersebut. Ia menilai aksi militer Israel berpotensi besar menggagalkan seluruh proses perdamaian yang tengah dirancang.

“Serangan Zionis ke Dahiyeh sekali lagi menunjukkan bahwa Amerika tidak memiliki kemauan untuk memenuhi komitmennya atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya,” tulis Qalibaf dalam pernyataannya.

“Jika Anda tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk memenuhi komitmen, maka tidak mungkin berbicara tentang melanjutkan proses ini,” tegasnya.

Ketegangan ini muncul di tengah klaim optimistis dari Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyatakan bahwa Washington dan Teheran akan menandatangani kesepakatan pada hari yang sama. Melalui platform Truth Social, Trump menyampaikan harapannya agar proses proposal damai berjalan cepat, mudah, dan lancar. Namun, ia juga melontarkan peringatan mengenai adanya alternatif terakhir jika kesepakatan tersebut gagal terwujud.

Pekan lalu, baku tembak antara Israel dan Lebanon sempat mengancam gencatan senjata yang sudah rapuh dan berpotensi memicu kembali konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Situasi semakin rumit setelah AS sebelumnya menyerang sejumlah target di Iran, sementara Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel dan sekutu-sekutu AS lainnya di kawasan. Rencana kesepakatan damai diumumkan tidak lama setelah rangkaian serangan tersebut.

Namun, kembalinya bentrokan antara Israel dan Hizbullah hingga Minggu dini hari kembali memunculkan keraguan bahwa perjanjian damai dapat segera tercapai. Di tengah ketidakpastian tersebut, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, justru menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Iran tetap akan ditandatangani.

“Saya yakin. Tim kami juga yakin. Saya tidak ingin mendahului presiden atau wakil presiden, tetapi mereka memiliki niat penuh untuk menyelesaikan hal ini hari ini,” kata Waltz dalam sebuah wawancara.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar