Lenong Betawi Bertahan di Tengah Gempuran Era Digital, Sanggar Kota Bambu Jadi Garda Terdepan Pelestarian

- Minggu, 14 Juni 2026 | 22:15 WIB
Lenong Betawi Bertahan di Tengah Gempuran Era Digital, Sanggar Kota Bambu Jadi Garda Terdepan Pelestarian

Di tengah derasnya arus hiburan digital dan budaya modern, Lenong, kesenian tradisional khas Betawi, berjuang untuk tetap eksis. Teater rakyat ini bukan sekadar tontonan yang menghibur melalui dialog spontan dan humor khasnya, melainkan juga menjadi medium penyampai pesan sosial sekaligus cerminan identitas masyarakat Betawi. Melalui cerita-cerita yang diangkat dari kehidupan sehari-hari, Lenong menawarkan lebih dari sekadar gelak tawa, tetapi juga nilai-nilai yang mendalam.

Akar kesenian ini dapat ditelusuri kembali ke akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Lenong lahir sebagai hasil adaptasi masyarakat Betawi terhadap berbagai bentuk teater yang populer pada masa itu, seperti Komedi Bangsawan dan Teater Stambul. Dalam perkembangannya, kesenian ini terbagi menjadi dua jenis utama. Pertama, Lenong Denes, yang mengisahkan kehidupan kaum bangsawan dengan penggunaan bahasa formal. Kedua, Lenong Preman, yang lebih dekat dengan keseharian rakyat jelata melalui celetukan humor dan kritik sosial yang kuat.

Upaya pelestarian warisan budaya ini terus dilakukan oleh berbagai komunitas agar tidak tergerus zaman. Salah satunya adalah Sanggar Kota Bambu di Jakarta. Pendiri sanggar tersebut, Kokom, menjelaskan bahwa regenerasi telah dimulai sejak puluhan tahun lalu. Ia menuturkan bahwa dirinya adalah penerus dari sanggar yang dirintis oleh ayahnya sejak tahun 2002.

"Sudah dari tahun 2002 waktu itu masih zamannya ayah saya, kebetulan saya adalah penerusnya. Kalau di sanggar itu ada Lenong, Gambang Kromong Pop Modern, Palang Pintu, dan tari," ungkap Kokom dalam tayangan Metro Siang, Metro TV, pada Minggu, 14 Juni 2026.

Menurut Kokom, sejak dahulu Lenong selalu menjadi hiburan rakyat yang merakyat dan mampu menghidupkan suasana perkampungan. Ia juga menekankan bahwa kelestarian kesenian ini tidak terlepas dari perhatian dan dukungan pemerintah daerah. "Pemerintah itu selalu mendukung, khususnya dari Sudin Kebudayaan. Kita dikirim guru-guru Lenong, dan dapat juga guru-guru yang lainnya untuk seni budaya Betawi," tambahnya.

Sementara itu, semangat para pelaku seni senior juga menjadi motor penggerak pelestarian. Rahman, seorang pemain Lenong senior di Sanggar Kota Bambu, menceritakan bahwa perjalanannya di dunia seni pertunjukan justru berawal dari kesenian Topeng Blantek. "Sebelum saya terjun ke Lenong, basic saya itu Topeng Blantek yang merupakan cikal bakal kesenian Betawi. Karena Blantek sempat vakum dan orang zaman sekarang perlu hiburan yang ramai dengan musik Gambang Kromong, akhirnya dengan seiring waktu timbullah Lenong," jelasnya.

Di tengah tantangan era digital, Rahman menaruh harapan besar agar pemerintah terus mengangkat kembali kesenian-kesenian yang belum banyak tersentuh. Ia berharap para seniman senior dapat terus difasilitasi untuk membantu generasi muda mengenali budaya asli Jakarta. "Harapan saya semoga budaya di tanah Betawi ini bisa diangkat kembali oleh pemerintah. Kalau bisa, Lenong eksis hingga ke luar negeri," ungkapnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar