Pada kesempatan yang sama, Kapolda mendorong mahasiswa untuk jadi agen perubahan. Caranya? Dengan membuka ruang dialektika, saling mempertentangkan ide untuk mendapatkan gagasan terbaik.
“Kalau kita sudah paham dan siap dipertentangkan, kita ke mana-mana pun tidak takut. Kenapa masuk polisi, TNI butuh wawancara, karena kita butuh ide-ide yang baik,” katanya.
Ajakan itu berlanjut. Kontribusi nyata dari generasi muda sangat dinantikan. Tidak hanya untuk manusia, tapi secara lebih luas untuk lingkungan.
“Saya ingin membuka kembali bagaimana memberikan kontribusi nyata kepada diri sendiri, lingkungan, dan negara. Jika pohon sudah memiliki dahan kuat dan daun lebat, kita bisa berkontribusi tidak hanya untuk keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar,” ujarnya menggambarkan.
Herry kemudian menyoroti sesuatu yang kerap luput. Keadilan, selama ini, seolah hanya fokus pada hubungan antar manusia. Sementara alam sering diabaikan. Ia mempertanyakan hilangnya kesadaran menjaga hutan, mengingat sejarah karhutla yang mulai marak sejak 2004 masalah yang sebelumnya nyaris tak dikenal di Riau.
Menutup sambutannya, Kapolda memperkenalkan sebuah konsep: Green Policing. Ini dimaksudkannya sebagai alat bagi masyarakat untuk bersinergi dengan Polri dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Kehadiran saya di sini bersama seluruh jajaran Polda Riau untuk memberikan narasi-narasi yang bagus agar masyarakat itu sadar memberikan ekologi. Dari emansipasi ke ekosipasi. Dari ekosipasi ke Green Policing. Dan Green Policing itu tujuannya adalah tools agar masyarakat bisa bersinergi dengan Polri,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Cut Tari Siap Syuting Web Series Setelah Vakum 7 Tahun
Gubernur DKI Ancam Bongkar 185 Lapangan Padel Ilegal di Jakarta
Tes Urine Dadakan di Polres Metro Jakbar, Semua 77 Personel Dinyatakan Negatif Narkoba
Ibu di Surabaya Berjuang Temui Anak Diduga Diculik, Proses Hukum Masuk Tahap Penyidikan