Upaya damai sempat ditempuh. Korban sudah menyurati lurah setempat dan mediasi pun dilakukan. Sayangnya, hasilnya nol besar. Proyek itu tetap berjalan, tak peduli dengan protes warga sekitar. Suara bising mesin dan aktivitas pekerja di jam-jam sepi tetap menjadi pemandangan dan lebih tepatnya, gangguan yang rutin.
Rasanya sudah habis kesabaran. Karena merasa dirugikan, warga memutuskan untuk membawa masalah ini ke ranah hukum.
Kini, bola ada di pengadilan. Kasus ini menjadi contoh lagi tentang tarik-menarik antara pembangunan dan kenyamanan warga di kota besar seperti Jakarta. Warga menunggu tindak lanjut dari kepolisian, sementara proyek lapangan padel itu entah sementara atau untuk selamanya menjadi simbol ketidaknyamanan yang mereka hadapi setiap malam.
Artikel Terkait
Libur Lebaran 2026 Jatuh Awal, Sekolah Libur 16-27 Maret
Ketua Komisi III DPR Sesalkan Penetapan Tersangka Guru Honorer Probolinggo
AS Disebut Makin Dekat dengan Keputusan Serang Iran, Israel Siap Hadapi Front Tambahan
Warga Srengseng Kesal, Oknum Wanita Kabur Bayar Usai Makan-Minum di Warung