Analis: Kebijakan AS dan Ambisi Israel Perbesar Potensi Konflik Langsung dengan Iran

- Senin, 23 Februari 2026 | 17:45 WIB
Analis: Kebijakan AS dan Ambisi Israel Perbesar Potensi Konflik Langsung dengan Iran

Dinamika Legitimasi Politik dan Tekanan Domestik

Konflik yang membara ini juga tidak terlepas dari dinamika politik dalam negeri masing-masing pihak. Retorika konfrontasi sering kali berfungsi sebagai alat untuk memperkuat legitimasi dan mempersatukan basis dukungan di tengah berbagai tekanan domestik.

Jalil Roshandel dan Nathan Chapman Lean dalam "Iran, Israel, and the United States: Regime Security vs. Political Legitimacy" (2011) mengangkat argumen ini. Mereka menyatakan bahwa ketegangan tinggi kerap dipicu oleh kebutuhan rezim untuk mengonsolidasikan dukungan melalui narasi keamanan nasional.

Bagi pemerintahan tertentu di AS dan Israel, eskalasi ketegangan dengan Iran dapat berfungsi sebagai pemersatu bagi para pendukungnya. Dalam konteks ini, kontrol kelompok kepentingan yang efektif di Washington memastikan aliran dukungan politik, finansial, dan militer tetap mengalir untuk mendukung postur yang lebih agresif.

Peringatan bagi Kekuatan Regional dan Global

Situasi genting ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi negara-negara Arab dan kekuatan global lainnya. Skema konflik yang mengemuka berpotensi mengikis stabilitas kawasan secara keseluruhan, jauh melampaui batas konflik Israel-Palestina.

Jika negara-negara Arab bersikap pasif, mereka secara tidak langsung dapat memfasilitasi terciptanya satu kedaulatan dominan yang didukung penuh oleh kekuatan militer besar. Pada akhirnya, hal ini berisiko mereduksi kedaulatan politik dan ekonomi bangsa-bangsa Arab sendiri.

Ancaman serupa juga mengintai kekuatan global seperti Rusia, Cina, dan Turki. Ambisi untuk mengontrol sumber daya energi kawasan secara ketat bertujuan membatasi akses dan pengaruh pihak luar. Jika Iran dilumpuhkan, jalur ekonomi dan diplomatik Rusia serta Cina di Timur Tengah berpotensi terputus. Sementara Turki, sebagai kekuatan independen lainnya, dapat menjadi target berikutnya dalam proyek penataan ulang kawasan yang tidak menghendaki pesaing setara.

Menuju Konfrontasi yang Tak Terelakkan?

Logika "perang abadi" yang diangkat Moorcraft menunjukkan bahwa mesin perang memerlukan musuh yang konstan untuk membenarkan eksistensi dan ekspansinya. Setelah fokus pada Gaza dan Lebanon, target logis berikutnya adalah jantung kekuatan penentang, yaitu Iran.

Dengan dukungan politik yang kuat di ibu kota AS, yang mampu mengarahkan kebijakan luar negeri, langkah pre-emptive dalam beberapa waktu ke depan dinilai semakin mungkin. Langkah tersebut dianggap sebagai upaya untuk mengamankan proyek ekspansif sebelum peta geopolitik global berubah akibat tekanan dari aliansi-aliansi baru.

Pada akhirnya, eskalasi di Timur Tengah saat ini merupakan pertemuan dari berbagai kepentingan kompleks: ekonomi energi, ambisi teritorial, dan pertarungan pengaruh politik global. Tanpa adanya upaya kolektif dan diplomatik yang sungguh-sungguh dari kekuatan regional maupun internasional, instrumen perang mungkin akan dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk memastikan dominasi, yang justru membawa risiko kehancuran bagi seluruh kawasan.

Muhammad Thaufan Arifuddin. Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas dan lulusan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Internasional (GSID), Universitas Nagoya, Jepang.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar