MURIANETWORK.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik yang mengkhawatirkan, dengan potensi konflik berskala besar yang semakin nyata. Analisis mendalam terhadap dinamika kebijakan luar negeri Amerika Serikat, ambisi keamanan Israel, dan kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional menunjukkan bahwa kawasan ini berada di ambang eskalasi militer yang serius. Artikel ini menyoroti akar konflik yang kompleks, yang tidak hanya menyangkut persaingan ideologis, tetapi juga perebutan pengaruh strategis dan sumber daya ekonomi.
Pergeseran Paradigma Kebijakan AS dan Dukungan pada Israel
Lanskap politik Timur Tengah saat ini sangat dipengaruhi oleh pergeseran signifikan dalam pendekatan Amerika Serikat. Kebijakan luar negeri AS, khususnya di era tertentu, menunjukkan sinkronisasi yang dalam dengan agenda keamanan dan ekspansionis Israel. Hal ini menciptakan dinamika baru yang mempercepat jalur menuju konfrontasi.
Dalam buku "Trump: America's First Zionist President" (2019), Derek Mailhiot menguraikan bagaimana kebijakan saat itu berakar pada dukungan tanpa syarat terhadap aspirasi Zionis. Langkah-langkah seperti pengakuan atas Yerusalem dan pemukiman ilegal menjadi penegas dari paradigma ini.
Dominasi kelompok kepentingan yang mendukung Israel dalam proses pengambilan keputusan di Washington semakin mengaburkan batas antara kepentingan nasional AS dan agenda Israel. Kondisi ini, menurut para pengamat, telah membentuk sebuah aliansi yang sangat solid, di mana keputusan strategis sering kali berjalan beriringan.
Ambisi "Greater Israel" dan Doktrin Perang Abadi
Di tengah realitas politik ini, muncul narasi ambisius mengenai "The Greater Israel" yang mendapatkan dukungan dari beberapa tokoh kunci. Narasi ini tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan sebuah doktrin keamanan yang melihat perang sebagai kondisi yang hampir permanen.
Paul Moorcraft dalam "Israel's Forever War" (2024) memaparkan analisisnya. Ia berargumen bahwa bagi Israel, perang bukan sekadar alat pertahanan sesaat, melainkan instrumen berkelanjutan untuk mempertahankan dan memperluas kontrol teritorialnya.
Visi yang melampaui batas-batas tradisional ini pada akhirnya menempatkan setiap kekuatan penentang sebagai ancaman yang harus dihadapi. Logika ini mendorong eskalasi dan mempersempit ruang untuk solusi diplomatik.
Iran sebagai Hambatan Utama dan Target Strategis
Dalam peta geopolitik yang berubah, Iran muncul sebagai kekuatan regional utama yang mampu menantang hegemoni. Kebangkitannya dinilai mengancam monopoli atas sumber daya ekonomi strategis di kawasan, terutama jalur energi di Teluk Persia.
Mohsen M. Milani dalam "Iran's Rise and Rivalry with the US in the Middle East" (2025) menjelaskan dinamika persaingan ini. Ia menyoroti bahwa kebangkitan Iran sebagai aktor mandiri merupakan tantangan langsung terhadap pengaruh AS.
Oleh karena itu, upaya untuk mengisolasi atau melumpuhkan Iran bukan semata-mata persoalan ideologi. Tindakan tersebut lebih dipandang sebagai langkah strategis untuk menyingkirkan satu-satunya aktor yang memiliki kemampuan militer dan jaringan pengaruh yang cukup untuk menghalangi penguasaan total atas kawasan.
Kekhawatiran terhadap ekspansi pengaruh Iran ini telah lama menjadi perhatian. Sebuah dokumen dari Jerusalem Center for Public Affairs berjudul "Iran's Race for Regional Supremacy" (2008) telah lebih dulu menyoroti infiltrasi pengaruh Teheran di Lebanon, Suriah, dan Yaman sebagai ancaman terhadap tatanan regional yang ada.
Dinamika Legitimasi Politik dan Tekanan Domestik
Konflik yang membara ini juga tidak terlepas dari dinamika politik dalam negeri masing-masing pihak. Retorika konfrontasi sering kali berfungsi sebagai alat untuk memperkuat legitimasi dan mempersatukan basis dukungan di tengah berbagai tekanan domestik.
Jalil Roshandel dan Nathan Chapman Lean dalam "Iran, Israel, and the United States: Regime Security vs. Political Legitimacy" (2011) mengangkat argumen ini. Mereka menyatakan bahwa ketegangan tinggi kerap dipicu oleh kebutuhan rezim untuk mengonsolidasikan dukungan melalui narasi keamanan nasional.
Bagi pemerintahan tertentu di AS dan Israel, eskalasi ketegangan dengan Iran dapat berfungsi sebagai pemersatu bagi para pendukungnya. Dalam konteks ini, kontrol kelompok kepentingan yang efektif di Washington memastikan aliran dukungan politik, finansial, dan militer tetap mengalir untuk mendukung postur yang lebih agresif.
Peringatan bagi Kekuatan Regional dan Global
Situasi genting ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi negara-negara Arab dan kekuatan global lainnya. Skema konflik yang mengemuka berpotensi mengikis stabilitas kawasan secara keseluruhan, jauh melampaui batas konflik Israel-Palestina.
Jika negara-negara Arab bersikap pasif, mereka secara tidak langsung dapat memfasilitasi terciptanya satu kedaulatan dominan yang didukung penuh oleh kekuatan militer besar. Pada akhirnya, hal ini berisiko mereduksi kedaulatan politik dan ekonomi bangsa-bangsa Arab sendiri.
Ancaman serupa juga mengintai kekuatan global seperti Rusia, Cina, dan Turki. Ambisi untuk mengontrol sumber daya energi kawasan secara ketat bertujuan membatasi akses dan pengaruh pihak luar. Jika Iran dilumpuhkan, jalur ekonomi dan diplomatik Rusia serta Cina di Timur Tengah berpotensi terputus. Sementara Turki, sebagai kekuatan independen lainnya, dapat menjadi target berikutnya dalam proyek penataan ulang kawasan yang tidak menghendaki pesaing setara.
Menuju Konfrontasi yang Tak Terelakkan?
Logika "perang abadi" yang diangkat Moorcraft menunjukkan bahwa mesin perang memerlukan musuh yang konstan untuk membenarkan eksistensi dan ekspansinya. Setelah fokus pada Gaza dan Lebanon, target logis berikutnya adalah jantung kekuatan penentang, yaitu Iran.
Dengan dukungan politik yang kuat di ibu kota AS, yang mampu mengarahkan kebijakan luar negeri, langkah pre-emptive dalam beberapa waktu ke depan dinilai semakin mungkin. Langkah tersebut dianggap sebagai upaya untuk mengamankan proyek ekspansif sebelum peta geopolitik global berubah akibat tekanan dari aliansi-aliansi baru.
Pada akhirnya, eskalasi di Timur Tengah saat ini merupakan pertemuan dari berbagai kepentingan kompleks: ekonomi energi, ambisi teritorial, dan pertarungan pengaruh politik global. Tanpa adanya upaya kolektif dan diplomatik yang sungguh-sungguh dari kekuatan regional maupun internasional, instrumen perang mungkin akan dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk memastikan dominasi, yang justru membawa risiko kehancuran bagi seluruh kawasan.
Muhammad Thaufan Arifuddin. Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas dan lulusan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Internasional (GSID), Universitas Nagoya, Jepang.
Artikel Terkait
Jakarta Jadi Tuan Rumah FIFA Series 2026, Timnas Uji Coba di Era Herdman
KPK Dalami Dugaan Pemanfaatan Safe House dalam Kasus Suap Bea Cukai
Kebakaran di Cianjur Tewaskan Tiga Orang, Nenek 64 Tahun Luka Bakar 100 Persen
Brimob Polda Metro Jaya Bagikan Ratusan Takjil Gratis di Jakarta Timur