Pasca-berakhirnya Perang Dingin, SBY mengamati munculnya kecenderungan baru. Amerika Serikat, sebagai satu-satunya negara adidaya yang tersisa, dinilainya menunjukkan keinginan untuk bertindak sebagai ‘lone ranger’ atau pihak yang bergerak sendiri dalam mencapai tujuan politik globalnya. Pada fase itu, lanjutnya, berkembang pula ramalan tentang kemenangan liberalisme serta berakhirnya komunisme dan otoritarianisme, yang seolah mengukuhkan posisi tunggal AS.
Realitas Multipolar yang Tak Terhindarkan
Namun, roda sejarah terus berputar. SBY menegaskan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Menurut analisisnya, dinamika kekuatan dunia telah bergeser jauh, dan era saat ini seharusnya telah memasuki fase multipolar. Sebuah tatanan di mana pengaruh dan kekuasaan tidak lagi terpusat pada satu negara, melainkan terdistribusi di antara beberapa kekuatan utama.
“Artinya apa? Sudah terjadi dan sekarang ini mestinya kembali ke multipolar, paling tidak Amerika, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, beberapa negara BRICS. Sadarilah kita hidup dalam tatanan multipolar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya kesadaran kolektif bangsa-bangsa, termasuk Indonesia, untuk membaca peta geopolitik kontemporer dengan jernih. Dalam tatanan yang lebih kompleks dan terfragmentasi ini, diplomasi yang lincah dan kebijakan luar negeri yang mandiri menjadi semakin krusial.
Artikel Terkait
Banding Ditolak, Leicester City Tetap Terancam Degradasi Usai Potongan Poin
Kejati DKI Geledah Kementerian PU Terkait Dugaan Korupsi Dana APBN
Pelaku Pencabulan Anak di Tangerang Selatan Ditangkap Setelah Setahun Buron
TNI AU Gelar Upacara Peringatan 80 Tahun di Lanud Sultan Hasanuddin