Warga Kalideres Tolak Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tanpa Sosialisasi

- Senin, 23 Februari 2026 | 11:05 WIB
Warga Kalideres Tolak Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tanpa Sosialisasi

Suasana di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, mendadak tebal Senin kemarin. Bukan karena polusi, tapi karena unjuk rasa. Ratusan warga dari Perumahan Citra 2 memadati lokasi proyek di sebelah RSUD Kalideres, menolak keras pembangunan rumah duka dan krematorium yang menurut mereka muncul begitu saja.

Spanduk-spanduk putih bertanda tangan warga terpampang jelas. Isinya penolakan. Aksi ini, seperti dilaporkan Antara, terjadi setelah warga merasa dipingpong. Mereka mengaku sama sekali tidak dapat sosialisasi atau informasi resmi soal proyek itu. Tiba-tiba, alat berat sudah beroperasi di lahan itu sejak pertengahan Februari.

“Kami tidak pernah menerima sosialisasi atau pemberitahuan resmi. Tahu-tahu sudah ada alat berat masuk dan pembangunan berjalan,”

Begitu kata Budiman Tandiono, perwakilan warga, suaranya terdengar kesal. Dia bercerita, warga baru heboh ketika mendengar suara mesin dan melihat aktivitas pembangunan. Padahal, lahan seluas 57.175 meter persegi itu sebelumnya dikenal sebagai lapangan sepak bola.

Di lokasi, plang bertuliskan aset Pemprov DKI Jakarta masih terpajang. Menurut Budiman, izin proyek katanya sudah terbit awal bulan, tepatnya 6 Februari 2026. Tapi anehnya, tak ada papan informasi proyek atau plang IMB yang biasanya wajib dipasang. Ini yang bikin warga curiga dan geram.

“Kalau ini jadi dibangun, ya harusnya jadi tempat olahraga juga. Katanya Jakarta kekurangan ruang terbuka hijau, tapi kok ini malah dibangun rumah duka tanpa persetujuan warga sekitar,”

Ucap Budiman lagi. Kekecewaannya jelas. Lahan fasum-fasos yang dulu jadi tempat anak-anak main bola, kini hendak diubah menjadi kompleks pemakaman dan pembakaran jenazah. Bagi warga, ini bukan cuma soal kehilangan ruang terbuka, tapi lebih pada rasa diabaikan. Prosesnya dianggap tertutup, dan keberadaan fasilitas itu di depan perumahan dirasa sangat mengganggu.

Mereka bertekad terus menyuarakan penolakan. Aksi Senin itu mungkin baru awal. Sementara di lokasi, alat berat sudah berdiam. Seolah menunggu situasi reda, atau justru menunggu konflik berikutnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar